Dolar Amerika Serikat Mengamuk di Iran

Penguatan mata uang dolar Amerika Serikat di Indonesia mengamuk, kata detik finance per Selasa, 08 Mei 2018. Dolar AS tembus pada Rp 14.000, meskipun masih jauh dari batas stress test Rp 20.000 seperti yang dilansir oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dikutip oleh detik finance.

Tidak hanya di Indonesia, dolar Amerika Serikat juga mencatatkan rekor baru terhadap mata uang rial Iran dalam sepekan ini. Nilai tukar dolar AS terhadap rial Iran mencapai level tertinggi yang mencapai 65.000 rial per Selasa, 08 Mei 2018 di pasar bebas. Jelas, kondisi ini sangat menghebohkan masyarakat. Bagaimana tidak, mata uang rial Iran, sudah cukup lama terombang-ambing tidak menentu yang disebabkan amukan dolar AS. Dan apa yang menjadi kekhawatiran pun terjadi, dolar AS tembus 65.000 rial sepanjang sejarah  negeri Mullah ini.

Pertanyannya adalah, bukankah dolar AS bukan mata uang yang diterima di Republik Islam Iran? Iran juga mendapat embargo dan pembatasan internasional karena sanksi yang diberikan kepada Iran oleh Departemen Keuangan Amerika Serikat (AS) bidang pengawasan aset asing atau Office of Foreign Assets Control (OFAC).

Amerika Serikat menggunakan dua senjata ampuh yang sangat efektif untuk memaksa negara-negara lain tunduk dan bersimpuh untuk memenuhi setiap tuntutan AS. Dua senjata itu adalah ancaman kekuatan militer dan sanksi ekonomi. Meskipun kekuatan militer AS tidak pernah tercatat dalam sejarah memenangkan perang, tetapi hegemoni mata uang dolar, selalu menjadi pemenang dan sangat sulit untuk ditundukkan, termasuk oleh Iran.

Mengapa demikian? Salah satu alasannya adalah dolar menjadi mata uang internasional, dan sebagai cadangan dunia yang berkisar 60%. Selain itu, perdagangan minyak juga menggunakan dolar dan hampir semua negara di dunia menyimpan cadangan devisanya dalam bentuk dollar. Karena itu tidak mengherankan apabila hampir setiap negara menggunakan dolar sebagai alat pembayaran transaksi perdangangan, termasuk di dalam dan luar Iran.

Dengan kekuatan itu, Washington kapan saja bisa menjatuhkan sanksi dan embargo kepada negara-negara target, dan melarang negara-negara lain untuk tidak melakukan perdangangan. Iran, Rusia, Venezuela, dan Kuba adalah contoh dari negara-negara yang menghadapi sanksi ketat dari AS. Bahkan Turki, sekutu NATO saat ini juga menghadapi kesulitan ekonomi akibat sanksi AS.

Tetapi, setidaknya beberapa negara sudah mengambil langkah-langkah korektif untuk mem-bypass dolar AS dan euro. Turki dan Iran misalnya sudah membuka jalur kredit untuk transaksi bisnis dengan menggunakan mata uang masing-masing negara. Ini adalah langkah positif dan berimplikasi sangat besar untuk masa depan kedua negara, seperti di lansir Tehrantimes pada 20 April, 2018.

Menteri Energi Rusia Alexander Novak bulan lalu juga menegaskan bahwa Moskow sedang mempertimbangkan pembayaran dalam bentuk mata uang nasional dalam perdagangan dengan Iran dan Turki. Jelas ini adalah sebuah langkah besar lain untuk menghadang hegemoni tak terkalahkan dolar AS seperti yang sudah dilakukan dengan China.

Dengan ekonomi terbesar kedua di dunia dan diprediksi akan segera melampaui AS, China memiliki posisi yang baik untuk melakukan tantangan efektif terhadap dolar. China juga mengumumkan rencana untuk menetapkan petroyuan untuk menggantikan petrodolar.

Sementara menurut Bank Sentral Iran, agenda kedepan negara adalah menyegel transaksi pertukaran valas dalam mata uang lokal dengan negara-negara mitra dagang utama Iran. Tentu, jika agenda ini terwujud, ini adalah saat-saat menarik dan dinanti yang akan mengantarkan perubahan besar di dunia dalam waktu dekat. [Faza]

Share :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.