Tujuan Hidup Perspektif Murtadha Muthahhari (III)

Tujuan Hidup Perspektif Murtadha Muthahhari

Mengenal Tujuan berarti Mengenal Diri

Setelah kita pahami (dalam tulisan-tulisan sebelumnya) bahwa penciptaan manusia memiliki tujuan, maka pertanyaan yang muncul adalah, “Apa tujuan hidup manusia?”

Menurut Syahid Murtadha Muthahhari, untuk mengetahui apa tujuan hidup manusia, kita mesti mengenal ‘apa’ manusia itu sendiri. Apa saja keistimewaan dan potensi yang tersembunyi dalam diri manusia. Serta kesempurnaan apa yang bisa digapai manusia.

Karena itu, simpul Syahid, kita tidak mesti membahas tujuan hidup secara independen. Kita cukup membahas ke-manusia-an manusia dan mengenal potensinya. Dengan bahasa lain, kita mesti melihat bagaimana islam memandang manusia. Apa saja yang dikabarkan langit terkait kesempurnaan yang menanti manusia. Apa yang dibawa para Nabi untuk manusia.

Seluruh ulama islam sepakat bahwa tugas para nabi dan rasul adalah membantu manusia menyempurnakan hidupnya. Syahid menyebutkan bahwa dalam hidup manusia, terdapat kekosongan (khal’) dan kekurangan (naqsh) yang tak dapat dipenuhi dengan apapun selain wahyu.

Kekurangan dan kekosongan apa yang dimaksud Syahid? Ikuti saja tulisan ini. Yang jelas, islam mengajarkan bahwa hanya dengan bantuan wahyu manusia bisa mencapai tujuan dan kesempurnaan yang menanti.

Sampai di sini, Syahid membagi pembahasan ini menjadi dua bagian: Pembahasan terkait tujuan manusia sebagai individu (fard), dan pembahasan terkait tujuan manusia secara umum.

Apa tujuan hidup manusia sebagai individu? Syahid, dalam kesempatan ini, tak mau menjelaskan panjang lebar. Kata beliau, pembahasan ini akan jelas dengan sendirinya ketika kita membahas tujuan manusia secara umum.

Intinya, kita mesti mengetahui dulu potensi apa yang kita miliki. Setelah itu, barulah kita mengaktualisasikan potensi-potensi itu. Pengaktualan potensi itulah yang menjadi tujuan hidup kita.

Oleh karena itu, dalam mengidentifikasi potensi kita, tentu kita butuh bantuan para nabi, khususnya Nabi Muhammad saw dan mukjizat abadinya, al-qur’an.

Yang perlu ditekankan di sini adalah bahwa kita meyakini hanya al-qur’an lah yang bisa membantu kita mencapai tujuan. Namun itu tak berarti kita menafikan pandangan-pandangan lain yang mencoba memberi pemahaman terkait hidup ini. Kita akan tetap mem-preteli pandangan selain al-qur’an. Sehingga keyakinan yang kita dapatkan bukanlah hasil doktrin semata.

Kembali ke al-qur’an, apakah al-qur’an menjelaskan secara rinci tujuan hidup kita? Apakah al-qur’an menjelaskan visi dan misi para nabi secara detail?

Jawaban pertanyaan-pertanyaan di atas adalah positif. Syahid meng-afirmasi pandangan yang mengatakan bahwa tujuan hidup manusia adalah untuk menuju kesempurnaan. Hanya saja, proses menyempurna ini mesti dilakukan secara bebas, dengan ikhtiyar , dan tanpa intervensi (jabr).

Di pembahasan selanjutnya, kita akan membahas panjang lebar proses penyempurnaan manusia ini. Tentu setelah menelaah pandangan-pandangan lain yang ada.

Penulis Farazdaq Khuza’i, Penikmat Filsafat dan Perenung Sufisme

Share :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.