Tembang Lir Ilir Berkumandang di Kota Suci Qom

Tembang Lir Ilir Berkumandang di Kota Suci Qom

QOM, HPIIRANNEWS– Bagi pecinta Ahlulbait di seluruh dunia, tanggal 15 Syaban, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Nishfu Syaban, adalah hari yang sangat penting dan mulia.

Salah satu alasan kemuliannya adalah di hari itu lahir sosok manusia suci yang menurut riwayat ulama Syiah, sebagai mata rantai keberlangsungan imamah. Imam yang akan menjadi juru penyelamat seluruh manusia itu bernama Imam Mahdi ‘ajjalallahu farajahu asy-syarif.

Untuk memperingati hari mulia ini, Para Pelajar Indonesia mukim di kota suci Qom mengadakan acara peringatan wiladah Imam Mahdi af yang diselenggarakan oleh Himpunan Pelajar Indonesia Iran (HPI), pada Rabu (3/5/18) sore, di sekretariat HPI Iran.

Acara dimulai dengan beberapa agenda, seperti pembacaan ayat-ayat suci al-Quran yang dilanjutkan dengan ceramah ustadz Mukhlisin Turkan yang mengupas falsafah dan nilai keghaiban Imam bagi manusia.

Menurut ustadz Mukhlisin, di bulan Syaban terdapat peringatan maulid Baqiyyatullah al-Mahdi, dan ini adalah hari pengharapan dan sekaligus terwujudnya keadilan. “Bulan Syaban terlepas dari apakah disana ada kelahiran manusia suci yang dinanti, bulan Syaban sendiri, baik malam maupun siangnya adalah penuh berkah, rahmah dan maghfirah. Terutama pada 15 Syaban yang sangat agung setelah malam lailatul Qadr,” katanya mengawali ceramah.

“Untuk sebuah penantian, kita harus membuka bab baru dalam kehidupan kita. Kita harus membangkitkan spirit penantian dalam pengertiannya yang utuh dan totalitas,” jelasnya.

“Kita menanti” yakni kita selalu optimis dengan usaha keras dan perjuangan yang berkelanjutan, dunia yang sudah disesaki dengan kezaliman, aniaya, kekejaman, penindasan, dan kebobrokan para tiran ini suatu saat akan berubah menjadi dunia yang diwarnai penghargaan terhadap kemanusian dan norma-norma insaniah dan tidak menyisakan ruang dan kesempatan bagi pendhalim untuk mencapai ambisinya,” jelasnya.

Lebih lanjut dikatakannya, salah satu penyebab kenapa Imam Mahdi ghaib adalah lemahnya kaum muslimin terutama para pecinta Ahlul Bait. Faktor-faktor penyebab kelemahan itu tertuang dalam untain doa Iftitah.

Yang pertama adalah ketiadaan Nabi, kedua ghaibatnya imam, ketiga banyaknya musuh, keempat, sedikitnya jumlah pecinta Ahlul Bait, kelima, ganasnya fitnah-fitnah, dan keenam adalah kemenangan zaman terhadap pecinta Ahlul Bait. Enam unsur ini menurutnya menjadi faktor kelemahan muslimin, terutama Muslim Syiah yang belum siap menerima kehadiran Imam Mahdi.

Usai mendengar uraian ceramah penuh inspiratif dan muatan-muatan motifasi itu, para hadirin kemudian disuguhi karya-karya seni dari para pelajar, seperti pembacaan puisi, lantunan qasidah dan tawasyih, maupun salawatan.

Di tengah aura penuh suka itulah tembang Lir Ilir karya Sunan Kalijaga dikumandangkan bersamaan dengan shalawat Badr. Namun sebelum itu, ustad Nasir Dimyati yang membawakan tembang itu dengan suara serak-serak basah, sedikit membedah makna-makna adi luhung dari setiap untaian lirik dan bait tembang yang diciptakan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga tersebut.

Menurut ustadz Nasir, dalam tembang tersebut, Sunan Kalijaga ingin menjelaskan ajaran-ajaran Islami murni meskipun sangat sulit seperti ketakwaan, tanggung-jawab dan moral.

Selain itu, tembang itu ingin menceritakan mengenai seorang pemimpin yang ngupeni umat yang diumpamakan dalam bait tembang itu sebagai bocah angon (penggembala).

Tugas yang sedang diemban oleh bocah angon dalam tembang Ilir-ilir tersebut, adalah memanjat pohon belimbing yang mempunyai lima sisi. Lunyu-lunyu penekno, selicin apa pun, terus harus kita panjat kanggo sebo mengko sore, kata Ustadz Nasir.

Masih menurut ustadz Nasir, dari sisi tingginya nilai-nilai yang dikandung dalam bait-bait tembang Lir Ilir menunjukkan bahwa  ulama-ulama Indonesia juga “tak kalah” hebat dalam soal perpaduan antara seni, budaya dan dakwah Islam dibanding dengan ulama-ulama dari berbagai belahan dunia lain.

Usai penjelasan mengenai makna bait-bait tembang tersebut, ustadz Nasir mengajak para hadirin mengumandangkannya bersama-sama yang diakhiri dengan bacaan shalawat badar. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan pembacaan kuis dan pembagian hadiah, termasuk untuk putra dan putri pelajar.

Acara peringatan penuh khidmat dan cuka cita itu dimulai sejak pukul 16:15 waktu setempat dan berakhir pada pukul 19:15 dengan ditutup doa Ziarah Imam Zaman yang dibacakan oleh mang Aqil, tepat menjelang Shalat Magrib. (hpiirannews/Alamsyah Manu)

Share :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *