Tujuan Hidup Perspektif Murtadha Muthahhari (II)

Tujuan Hidup Perspektif Murtadha Muthahhari (III)

Dua Makna Tujuan

Sebelumnya, telah diisyaratkan bahwa sebelum membahas tujuan hidup, kita mesti lebih dulu memahami makna tujuan itu sendiri. Sehingga, pertanyaan “Apa tujuan penciptaan?” bisa dimaknai dengan dua pemahaman.

Pertama, “Apa tujuan pencipta dari penciptaan?” Artinya, motif apa yang menggerakkan pencipta sehingga ia mencipta?

Dalam pemaknaan pertama ini, tujuan berarti motif dan penggerak pelaku (dalam hal ini Tuhan). Motif inilah yang menyebabkan Tuhan menciptakan manusia dan makhluk lainnya. Jika motif ini tiada, maka Tuhan juga tak akan mencipta. Menurut Syahid, pemaknaan tujuan ini tak bisa di-labelkan kepada Tuhan. Kita tidak bisa mengatakan, Tuhan melakukan sesuatu (baca: penciptaan) demi sampai kepada tujuan tertentu. Tujuan itulah yang menyebabkan pelaku (baca: pencipta) menjadi pelaku (baca: pencipta).

Pemaknaan ini akan melazimkan ketidak-sempurnaan. Artinya, hanya makhluk-lah yang memiliki tujuan dengan makna seperti ini (melakukan sesuatu agar dirinya sampai kepada tujuan tertentu). Makna tujuan seperti ini adalah bahasa lain dari istikmal, penyempurnaan: Pelaku (fa’il), dengan pekerjaannya (fi’il), ingin sampai kepada sesuatu yang sebelumnya tak ia miliki.

Kedua, “Apa tujuan penciptaan itu sendiri?” Artinya, setiap makhluk bergerak menuju satu tujuan tertentu. Dan makhluk itu tercipta demi sampai kepada tujuan itu. Penciptaan ini tercipta supaya ia sampai kepada kesempurnaannya. Bukan bermakna, Tuhan menciptakan supaya Dia sampai kepada tujuan tertentu.

Kembali ke pertanyaan awal, “Apakah penciptaan memiliki tujuan?” Syahid mengatakan jika kita meyakini bahwa seluruh makhluk, sejak awal penciptaan, bergerak menuju tujuan tertentu, maka penciptaan memiliki tujuan. Tujuan dalam makna kedua.

Kenyataannya memang demikian. Menurut Syahid, segala sesuatu yang ada, memiliki kesempurnaan yang sudah ditunggu. Seluruh makhluk diciptakan agar sampai kepada kesempurnaannya.

Demikianlah rahasia penciptaan alam ini. Segala sesuatu diciptakan dari ketidak-sempurnaan, dan senantiasa bergerak menuju kesempurnannya. Demikian pula dengan manusia.

Pada pembahasan selanjutnya, kita akan membahas pandangan-pandangan yang dikutip Syahid terkait tujuan hidup manusia.

Penulis Farazdaq Khuza’i, Penikmat Filsafat dan Perenung Sufisme

Share :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *