Bumi Bulat, Bumi Datar, Bumi Tempat Khalifah Allah

Ilustrasi. Penganut bumi datar akhirnya berhasil luncurkan roket untuk membuktikan keyakinannya. (Foto: Thinkstock/Egal) (CNN)

Kenapa bumi bulat? Kenapa bumi datar? Kenapa kerupuk tengiri yang kita santap, disebut bundar? Bukan lingkaran bukan pula datar? Kenapa bulat? Kenapa datar? Kenapa bundar? Dan kenapa? Entah mengapa?

Entah diawali dari apa atau oleh siapa, ujug-ujug forum WA Pelajar Indonesia Iran, sepekan ini dibanjiri kue tar rasa bulat, bundar dan datar. Saya malah menyadari bentuk kerupuk tengiri yang sedang saya lahab adalah bundar sedikit ber-tato dan bopeng-bopeng, bukan bulat juga bukan datar.

Ketika mulut saya sibuk mengunyah, dan tangan saya lincah memungut kerupuk bundar tengiri di piring, mendadak ingatan saya kembali melayang ke pelajaran sejarah yang menyebutkan istilah “Konferensi Meja Bundar“, bukan “Konferensi Meja Bulat” atau apalagi “Konferensi Meja Datar“.

Karena ingat akan pelajaran itu, jari-jari saya yang sudah semestinya sudah dibawa ke spesialis urut jari, malah lincah menggoogling-googling, sementara otak saya aktif menganalisis perbedaan ketiga mahkluk itu; bulat, bundar, dan datar. Apakah mereka bertiga itu benar-benar makhluk beda jenis dan kelamin? Atau, itu hanya perasaan saya aja!?

Berdasarkan KBBI, bundar itu “berbentuk lingkaran (melengkung) dengan jari-jari yang sama”, sementara bulat “berbentuk lingkaran; bundar (tanpa bersudut)”, lah kalau datar? KBBI berpetuah demikian, “berpermukaan rata; tidak turun naik; tidak tinggi rendah; tidak berbukit-bukit”.

Meski KBBI menyebut-nyebut nama lingkaran dalam definisinya, kata bundar ini berkedudukan sebagai kata sifat (adjektiv). Contoh penggunaan kata ini, seperti yang juga dicontohkan, adalah meja bundar.

Hem, lah tapi sebenarnya, apa bedanya bundar dengan lingkaran datar?

Analisa sederhana saya, bentuk dasar bundar adalah lingkaran, dan yang membedakannya adalah fakta bahwa bundar ternyata bukan dua dimensi, melainkan tiga dimensi. Tapi, kata bundar ini umumnya digunakan untuk mengacu pada bentuk cakram yang pipih, seperti recehan koin-koin yang berhamburan di lantai kamar tidur anak-anak mujarad. Lalu datar bagaimana? Allamah KBBI bilang, “berpermukaan rata; tidak turun naik; tidak tinggi rendah; tidak berbukit-bukit”. Artinya, sebuah benda yang rata yang mempunyai dua demensi yaitu panjang dan lebar, tetapi tidak mempunyai tinggi atau tebal. Berdasarkan pengertian tersebut dapat dicontohkan bahwa bangun datar merupakan bangun dua demensi yang hanya memiliki panjang dan lebar, yang dibatasi oleh garis lurus atau lengkung. Karena datar maka, tidak akan keluar hukum ini, imma dia berbentuk persegi, persegi panjang, jajar genjang, belah ketupat, layang-layang dan atau trapesium. Piye jal!

Tapi…., ini yang penting bahwa kata bulat semakin populer dan dipopulerkan oleh pendukung teori bumi bulat, seiring dengan gemuruh debat kusir antara pendukung teori bumi datar dalam sepekan ini. Dan ternyata kata “bulat” dalam teori yang didebatkan itu cukup ampuh sebagai biang pendongkrak kepopuleran semua hal yang berbentuk bulat. Bahkan, kawan-kawan single yang masih membujur sendirian di kamar tidur sana pun mendukung tingginya penggunaan kata bulat, ketika sebagian mereka menggunakan kata bulat dengan sapaan basa-basi yang makjleb, “Wah, pipimu bulat banget ndes, seperti onde-onde!

Intinya ndes, jika pun seluruh sejarah dan semua kehebatan ilmu manusia ber-evolusi sekaligus ber-imajinasi, kemudian datar dibulatkan, bulat didatarkan, bulat dan datar dibundarkan, akhirnya semua kembali pada nilai kesadaran seseorang untuk berbuat sesuatu. Sesutau itu akan bermakna ketika ditentukan oleh sejauhmana “ideologi” yang dianut oleh pelaku tersebut.

Barat Timur dipertarungkan, sosialisme kapitalisme dipertengkarkan, Ottoman berlagak seperti khalifatullah, Iran dilindas oleh tank-tank bejat demokrasi, Indonesia dikeroyok, dipetak-petak oleh partai-partai politik dan di rekayasa sedemikian rupa sehingga para koruptor diuri-uri bagai malaikat.

Dalam kondisi seperti ini jika hanya diam, tenggelamlah kita semua di lautan air mata sendiri. Dan bodohlah kita semua yang tenggelam di lautan air mata sendiri. Seolah-olah penanggung jawab utama kerusakan di bumi yang bulat, datar dan bundar adalah orang lain, seolah kita bukan Khalifatullah. Menjadi Khalifah Allah di bumi oleh Pencipta bumi dan seluruh alam semesta jagat raya adalah logika dan logis. Menjadi Khalifah Allah adalah posisi khusus manusia, dan semua benda patuh kepada Tuhan. Sungai, gunung, hutan, angin, dedaunan dan embun, semua patuh kepada Allah Swt diatas bumi  datar, bulat dan bundar.

Allah Swt dalam al-Quran menyitir kita, “Dan (ingatlah) tatkala Tuhan engkau berkata kepada Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan di bumi seorang khalifah”. Berkata mereka: “Apakah Engkau hendak menjadikan padanya orang yang merusak di dalam nya dan menumpahkan darah, padahal kami bertasbih dengan memuji Engkau dan memuliakan Engkau?” Dia berkata: “Sesungguhnya Aku lebih mengetahui apa yang tidak kamu ketahui“”. (al-Baqoroh, ayat 30). [Faza]

Share :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *