Tujuan Hidup Perspektif Murtadha Muthahhari (I)

Tujuan Hidup Perspektif Murtadha Muthahhari (III)

Pendahuluan

Bagi mereka yang suka dengan pemikiran-pemikiran islam yang dijabarkan sesuai kondisi masa kini, nama Murtadha Muthahhari tentu tak asing di telinga. Sang pemikir dari Iran itu memiliki pemikiran, pandangan, dan penafsiran yang unik, lugas, dan merakyat terkait ajaran-ajaran islam. Buku-bukunya tentang keadilan, hijab, fitrah, dan sejumlah pembahasan lainnya mampu memberikan warna baru dalam wacana keislaman.

Hal ini dikuatkan dengan perkataan Imam Khomeini yang menyifati beliau sebagai, “pribadi yang menghabiskan seluruh umurnya demi tujuan mulia islam.”

Artinya, semasa hidupnya, Murtadha Muthahhari senantiasa berusaha menyebarkan pemikiran-pemikiran murni islam. Beliau senantiasa berusaha menjelaskan pada umat islam, bahwa seluruh ajaran islam sangat bisa dipertanggung jawabkan, bahkan hanya islam-lah yang mampu menjawab seluruh kebutuhan asasi manusia.

Tulisan ini ingin membahas dan mempreteli buku beliau yang berjudul Hadaf-e Zendegi (Tujuan Hidup). Buku ini sebenarnya adalah transkrip dari ceramah-ceramah beliau di depan sekitar 10 murid beliau. Dalam buku ini, Ustad membahas pertanyaan penting yang menjadi asas kehidupan manusia.

Salah satu kebutuhan manusia yang paling mendasar adalah mengetahui tujuan dan makna hidup. “Mengapa aku diciptakan?” “Apa tujuan hidupku?” “Kemana aku mesti menuju?” dan pertanyaan serupa lainnya senantiasa membingungkan manusia. Pertanyaan mendasar ini nyatanya menjadi dasar bagi manusia dalam bertindak dan menjalani hidup.

Apakah islam memiliki jawaban yang memuaskan atas pertanyaan yang telah ada sejak manusia bisa berpikir ini? Syahid Murtadha Muthahhari –selanjutnya ditulis Syahid- memiliki pandangan unik sekaligus kuat atas pertanyaan ini.

Menurut Syahid, pertanyaan ini jika di-bahasa islam-kan akan menjadi, “apa tujuan pengutusan para nabi dan misi mereka yang sebenarnya?”

Jelas, tujuan pengutusan para nabi tak dapat dipisahkan dari tujuan hidup manusia (yang merupakan objek dakwah para nabi). Karena, para nabi diutus untuk mengantarkan manusia menuju tujuan-tujuan tertentu.

Pembahasan ini jika dilebarkan lagi, maka akan muncul pertanyaan lain. “Apa tujuan penciptaan?” Apakah penciptaan makhluk –yang mati maupun yang hidup- khususnya manusia memiliki tujuan?

Untuk menjawab pertanyaan ini, kita mesti terlebih dahulu memahami apa makna tujuan. Di sini, tujuan (secara umum, kita mengerti apa itu tujuan) bisa memiliki dua makna.

Di pembahasan selanjutnya, kita akan membedah dua makna tersebut. Setelah kita memahami makna apa yang dimaksud dalam tujuan penciptaan, barulah kita membahas apa sebenarnya tujuan hidup itu.

Penulis Farazdaq Khuza’i, Penikmat Filsafat dan Perenung Sufisme

Share :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *