Mengingat Kartini, Mengenang Kartono

HPIIRANNEWS – Di Hari Kartini, kita lebih disibukkan mengenang RA Kartini beserta keharuman namanya, tanpa kita mencoba mencari tahu, siapa yang berperan dibalik kebesaran nama Kartini. Tidak terpikirkah dari mana Kartini yang tengah dipingit mendapatkan literatur-literatur Eropa yang dicetak terbatas seperti, majalah terkenal Maatschappelijk werk in Indie, De Gids, De Hollandsche Lelie, De Locomotief dan juga melahap karya Multatuli berjudul Max Havelaar. Ia juga membaca karya Van Eeden yang bermutu tinggi, karya Augusta de Witt, roman-feminis karya Nyonya Goekoop de-Jong Van Beek dan sebuah roman anti-perang karangan Berta Von Suttner, Die Waffen Nieder (Letakkan Senjata)?. Ia mendapatkan semua bacaan itu dari kakak laki-lakinya. Kakak yang sangat berperan besar dalam pertumbuhan intelektual dan kemajuan berpikir Kartini. Nama kakaknya, Kartono. Lebih lengkapnya Raden Mas Panji Sosrokartono.

Disetiap peringatan Hari Kartini, Kartono tidak pernah disebut, bahkan dalam buku pelajaran sejarah anak sekolahan, ia tidak diperkenalkan sama sekali.

Kartono lahir pada Rabu Pahing 10 April 1877, dua tahun lebih dulu dari kelahiran Kartini, adiknya. Ia adalah putra R.M. Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara. Sejak kecil, kecerdasan dan kemajuan berpikirnya telah mulai tampak, dan itu ditularkannya kepada adiknya. Ia menamatkan pendidikan dasar di Eropesche Lagere School di Jepara, kemudian melanjutkan pendidikannya ke H.B.S. di Semarang. Pada tahun 1898 Sosrokartono melanjutkan sekolahnya ke negeri Belanda, yang karena itu dialah mahasiswa Indonesia pertama yang meneruskan pendidikannya di negeri Belanda sekaligus Bumiputra pertama yang bergelar Docterandus in de Oostersche Talen dari Perguruan Tinggi Leiden dengan spesialisasi jurusan Bahasa dan Kesustraan Timur. Ia menguasai setidaknya 24 bahasa asing dan 10 bahasa suku di tanah Nusantara. Dengan keahliannya dalam banyak bahasa, ia melanglang buana di banyak negara di Eropa. Ia dijuluki di Eropa “si Jenius dari Timur”. Bahkan lebih dari itu, ia dilibatkan dalam Liga Bangsa-Bangsa (cikal bakal PBB) yang didirikan tahun 1919, sebagai kepala penerjemah untuk semua bahasa yang digunakan di Liga Bangsa-Bangsa dari tahun 1919 sampai 1921. Ia berhasil mengalahkan beberapa poliglot (orang yang mampu menggunakan beberapa bahasa) lain dari Eropa dan Amerika.

Selama di Eropa, dia juga bekerja sebagai wartawan di beberapa surat kabar dan majalah terkenal. Darinyalah Kartini mendapatkan buku dan buletin, yang kerap dikirimkan kakaknya. Dari buku kiriman Kartonolah, Kartini mendapatkan pencerahan dalam mendobrak tradisi dan memperjuangan lahirnya gerakan emansipasi perempuan di nusantara. Dalam surat-suratnya, Kartini menyebut kakaknya sebagai orang yang sangat mendukung gagasan-gagasannya, termasuk banyak membantunya dalam mengatasi berbagai persoalan. Kartini menyebut Kartono lah yang paling banyak menginspirasinya dalam melahirkan gagasan-gagasan yang mendobrak tradisi yang cenderung membatasi gerak pikir kaum perempuan.

Pada tahun 1925, Kartono kembali ke tanah air. Ia mendirikan sekolah dan perpustakaan yang diidam-idamkan adiknya yang berpulang terlebih dahulu di tahun 1904. Ia juga merintis Taman Siswa bersama Ki Hajar Dewantara di Bandung. Selain aktif di dunia pendidikan, keterlibatannya dalam aktivitas politik membuatnya sering bersinggungan dengan Pemerintah Kolonial Belanda. Namanya tercatat dalam list Pemerintah Kolonial Belanda sebagai pelopor gerakan nasional Indonesia yang berbahaya bagi Pemerintah Hindia Belanda.

Sampai akhir hayatnya, Raden Mas Panji Sosrokartono terus memberikan pencerahan dan pendidikan bagi orang banyak, sampai akhirnya ia menghembuskan nafas terakhirnya pada tahun 1952. Ia tidak menikah, yang dengan itu ia tidak punya anak. Nasehat bijaknya yang sangat populer hingga saat ini meski namanya justru tidak dikenali, “Sugih tanpa banda, digdaya tanpa aji, nglurung tanpa bala, menang tanpa ngasorake” yang artinya, kaya tanpa harta, sakti tanpa jimat, menyerang tanpa prajurit dan menang tanpa merendahkan.

Pada peringatan Hari Kartini, seyogyanya jangan lupakan peran besar Kartono. Tanpa kehadiran Kartono, yang melihat dengan pikiran terbuka bahwa perempuan juga sama posisinya dengan laki-laki dalam pikiran dan kecerdasan, gagasan-gagasan Kartini yang mendukung kemajuan perempuan Indonesia tidak akan lahir. Disaat lingkungannya membatasi gerak kaum perempuan hanya dalam memberikan pelayanan rumah tangga, Kartono mendorong Kartini untuk menggali dan mengembangkan potensinya. Ia mensuplai buku-buku dan bacaan bernas kepada Kartini, karena percaya perempuan juga bisa memiliki pandangan yang luas dan tajam. Dari jauh Kartono mendidik Kartini untuk berpikir kritis dan jangan pasrah pada kenyataan yang tidak adil.

Di Hari Kartini, jadikanlah RA Kartini sebagai tokoh inspiratif untuk mencetak Kartini-Kartini baru, tapi jangan lupa, untuk juga mencetak Kartono-Kartono baru, laki-laki yang melihat perempuan bukan sebagai obyek sensual tapi sebagai teman untuk berpikir bersama. (hpiirannews)

Oleh Ismail Amin Pasannai:  Mahasiswa Universitas Internasional Al-Moustafa Qom Republik Islam Iran, Program Studi S2 Tafsir Alquran

Share :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.