Tips Cara Sehat Bermedia Sosial

Sejak media sosial online seperti Facebook, Twitter, Instagram, Whatsapp, dll, muncul menggantikan buku diary, ada fenomena yang cukup mengkhawatirkan di tengah komunitas muslimah kita. Fenomena itu seringkali disebut sebagai “narsisme”. Apa itu narsisme? Sehingga dianggap mengkhawatirkan? Meski narsis bukan hal baru, karena fenomena semacam ini sudah terjadi dalam bentuk luar dunia internet.

Narsisme adalah adalah kondisi atau keadaan mencintai diri sendiri secara berlebihan, menurut penjelasan KBBI. Dan orang yang mengalami gejala ini disebut narsisis. Istilah ini pertama kali digunakan dalam istilah psikologi dalam mitos Yunani, Narkissos, yang artinya dikutuk sehingga ia mencintai bayangannya sendiri di kolam. Orang yang sangat terpengaruh oleh rasa cinta akan dirinya sendiri dan tanpa sengaja menjulurkan tangannya hingga tenggelam dan akhirnya tumbuh bunga yang dikenal dengan bunga narsis.

Sifat Narsis terdapat di semua orang, dan cakupannya sangat luas, tidak hanya menyangkut soal perilaku, tapi merupakan cara pikir, pandang dan tindakan, meski secara kasat mata lebih bersifat pada hal-hal yang tidak begitu penting dengan tujuan ingin dilihat, diperhatikan, dipuji dan disanjung. Karenanya, narsisme bukanlah sesuatu yang ringan, tapi merupakan sebuah sikap kepribadian dan kondisi psikis seseorang yang akan menjadi tidak sehat bila berlebihan.

Sebagai contoh narsisme adalah, memposting foto diri sendiri dan ditampilkan, dibagikan kepada siapa saja di dunia maya. Meskipun mungkin punya tujuan dan alasan baik dan positif dari setiap foto yang diposting itu, tapi sulit dikatakan jika tidak bertujuan ingin dilihat, diperhatikan, dipuji dan disanjung.

Mungkin beberapa tips dibawah ini akan mengurangi sedikit kekhawatiran dari efek narsisme kronis utamanya bagi muslim dan muslimah;

–  Memakai hijab bagi wanita bukan sekedar menutup aurat, tapi juga sebagai bentuk menjaga kehormatan dan kesucian. Tentu berhijab bukan untuk dipuji dan disanjung. Apalagi sengaja menampilkan kecantikan wajah dan keindahan fisik. Karena ini justru menghilangkan nilai kehormatan dan kesucian diri.

– Berusaha menjaga diri bagi wanita dari pandangan lelaki bukan muhrimnya, tentu bukan bermakna mengurung diri di dalam rumah dan mengunci pintu rapat-rapat. Menjaga diri bisa bermakna, menjauhi segala sikap berlebihan yang sengaja dilakukan untuk mendapat sanjungan, pujian, dan perhatian dari lelaki bukan muhrimnya. Dan tidak memperlihatkan kecantikan dan keindahan fisik, meskipun itu dalam balutan hijab.

–  Rasa ingin disanjung dan dipuji berlebihan, adalah sifat tercela, meskipun itu adalah sifat manusiawi.

–  Setiap muslimah yang telah menikah semestinya menyadari bahwa setiap kecantikan, keelokan, keanggunan dan keindahan fisik hanyalah milik suaminya. Sehingga saat ia menampilkan kecantikan dirinya kepada lelaki bukan muhrimnya atau siapapun, secara tidak langsung ia telah mengkhianati suaminya. Karena ia telah memberikan sesuatu yang sangat berharga milik suaminya itu kepada orang lain yang sama sekali tidak pantas mendapatkanya. Hal ini tentu berlaku juga bagi muslimah yang belum menikah.

– Setiap muslim menyadari, bahwa istrinya, putri-putrinya, saudari-saudarinya, ibunya, dan keluarga wanita, adalah permata indah berkilau yang harus dijaga dengan baik. Kondisi seperti ini harus tetap dijaga oleh seorang muslim dalam kondisi apapun.

–  Setiap muslim yang sudah menikah ataupun yang belum menikah memahami bahwa, disaat ada muslimah -, yang mungkin karena ketidaktahuannya terhadap hukum, bahkan jika disengaja -, menampilkan kecantikan diri, meski dalam balutan hijab, setidaknya menundukkan pandangannya. Bukan sebaliknya dengan menganggap kesempatan untuk melihat kecantikan dan kemolekan fisiknya.

Diatas adalah beberapa tips bermedia sosial secara sehat yang mungkin bisa menjaga muslim dan muslimah terjerembab kedalam perbuatan yang dibenci Allah Swt atau setidaknya bisa menjaga diri untuk tidak memampang permasalahan hidup dan hal-hal yang bersifat privasi di media sosial. Karena itu, bebarapa tips diatas, setidaknya sebagai solusi sederhana untuk membatasi atau tidak memposting foto dirinya di media sosial, terutama bagi muslimah dengan berbagai macam posenya.

Selain menjauhi dan membatasi diri dianggap bukan hanya karena dampak negatif kronis media sosial, tetapi lebih sebagai upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. Kedekatan masyarakat kepada Allah Swt adalah modal segala kebaikan bangsa. Islam mengajarkan kebaikan dalam keluarga dan masyarakat.  Al-Quran menggambarkan kebaikan sebuah masyarakat dengan mengatakan; “Seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya menjulang ke langit, pohon itu menjulang ke langit, pohon itu memberikan buahnya setiap musim dengan seizin Tuhan-Nya.” (QS Ibrahim: 24-25).

Sudah sepatutnya setiap muslim dan muslimah untuk saling tolong menolong dalam kebaikan, menjaga kesucian dan kehormatan masing-masing, serta mencegah tersebarnya kebiasaan buruk yang merusak sendi-sendi kehidupan dan moral masyarakat. [MRK]

Share :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.