Cetak Biru Toleransi Agama dan Sosial; Menuju Masyarakat Madani

Tiada Paksaan Memeluk Islam
Salah satu benih konflik sosial yang mengancam kehidupan dalam sebuah masyarakat adalah doktrin yang mengharuskan dan memaksa untuk memilih agama tertentu. Namun sisi lain, suatu masyarakat boleh jadi berkoeksistensi damai dengan tetap menjaga kemurnian ajaran agamanya masing-masing dari pengaruh pengikut agama dan golongan lain, yang benar ataupun yang sesat.

Adanya doktrin yang mengharuskan dan memaksa seseorang menganut agama tertentu, dalam sistem ajaran sebuah agama, bisa jadi mengancam toleransi dan kerukunan tiap-tiap penganut kepercayaan dalam sebuah masyarakat. Karena, manakala agama yang menganut doktrin semacam ini dominan dan berkuasa, ia akan mendesak keras pengikut agama lain agar menanggalkan kepercayaanya. Jika desakan ini tidak dipenuhi, maka bukan hanya merusak kerukunan sosial, juga menimbulkan problematik yang sangat serius, tetapi juga mengancam nyawa dan harta individu. Sejarah juga telah mencatat serangkaian tindakan diskriminatif dan derita kaum minoritas.

Islam memang menyeru seluruh umat manusia untuk memeluknya, sekaligus mengancam akan mengazab siapa pun yang menolak seruan ini dengan motif kebencian dan keras kepala. Namun Islam membedakan siksa di dunia dan akhirat. Pada tahap awal, Al-Quran menyeru seluruh umat manusia untuk masuk Islam. Dalam konteks ini, Nabi Saw bahkan sampai berusaha keras dengan mempertaruhkan nyawanya. Meski demikian, Islam tidak pernah memaksa orang memeluk Islam. Yang perlu ditambahkan, kendati sikap menolak Islam tidak berdampak hukuman di dunia, namun di akhirat kelak, pelakunya akan dimintai tanggung jawab atas segenap perbuatannya. Al-Quran mengatakan:

“Dan (ingatlah) hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan ke neraka, (dikatakan kepada mereka), “Bukankah (azab) ini benar?” Mereka menjawab, “Ya benar, demi Tuhan kami.” Allah berfirman, “Maka rasakanlah azab ini disebabkan kamu selalu ingkar.” Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka.” (QS. al-Ahqaf [46]: 34-35).

Berikut sejumlah ayat yang menafikan paksaan dalam memeluk Islam:

“Tidak ada paksaan dalam (menerima) agama (Islam).” (QS. al-Baqarah [2]: 256).
Berkenaan dengan penyebab turunnya ayat ini, kalangan ahli tafsir mengatakan, “Beberapa keturunan Nasrani enggan memeluk Islam. Orang tua mereka yang baru memeluk Islam sudah berputus asa untuk mengislamkan anak-anaknya lewat cara damai. Mereka lalu mengeluhkan persoalan ini kepada Nabi Saw, dengan harapan kiranya beliau akan mengerahkan kekuatannya (pemerintahan Islam) untuk memaksa mereka memeluk Islam“. Lalu ayat di atas diwahyukan kepada Rasulullah Saw untuk menepis pemaksaan keyakinan.

Dan katakanlah, “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu. Maka barangsiapa ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa ingin (kafir) biarlah ia kafir.” (QS. al-Kahfi [18]: 29).
Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.” (QS. al-Insan [76]: 3).

Dalam dua ayat ini, Allah Swt menjelaskan tujuan penciptaan dan memberikan petunjuk jalan yang lurus kepada manusia. Kemudian Allah Swt juga mengingatkan bahwa dalam konteks ini, tidak ada unsur paksaan. Sebab, beragama adalah pilihan dan kebebasan individual. Setiap orang bebas memilih untuk beriman atau kafir. Al-Quran berulang kali mengemukakan hal ini dengan beragam aksentuasi, seperti:

“Dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah).” (QS. Al Imran [3]: 20).
“Dan kamu sekali- kali bukanlah seorang pemaksa terhadap mereka.” (QS. Qaf [50]: 45).
“Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka.” (QS. al-Ghasysyiah [88]: 21-22).

Rangkaian ayat tersebut mendeskripsikan tugas seorang rasul hanyalah menyampaikan risalah Ilahi kepada umat manusia, juga menekankan keimanan individu agar dilandasi kebebasan, kesadaran, dan argumentasi, bukan lewat kekuatan dan kekerasaan.

Konsepsi ajaran di atas bukan khas Islam, melainkan juga diusung agama-agama sebelumnya. Umpama, Nabi Nuh as mengatakan pada kaumnya, “Bagaimana mungkin aku memaksakan agama pada kalian, sementara hati kalian membencinya.”

“Apakah akan kami paksakan kamu menerimanya, padahal kamu tiada menyukainya?.” (QS. Hud [11]: 28).

Ayatullah Murtadha Muthahari mengatakan: “Kita memiliki sejumlah ayat yang menjelaskan bahwa agama harus disampaikan dengan cara benar, bukan lewat paksaan. Ini membuktikan Islam tidak menggunakan kekerasan terhadap seseorang dengan mengatakan, “Islam atau mati”. Di sisi lain, ayat ini juga menjelaskan kemestian jihad.

Dialog Logis antar Agama
Salah satu asas kesepahaman dan toleransi antarumat beragama dan mazhab dalam sebuah masyarakat adalah tradisi dialog produktif dan kondusif. Islam juga memperhatikan hal ini sejak memulai dakwahnya. Islam menginginkan nabinya menyampaikan dan menyuarakan agama lewat metoda dialog dan logika. Dialog menempati posisi yang sangat signifikan dalam Al-Quran. Bahkan istilah “dialog” (berikut padanannya) menduduki posisi utama di bawah kata “Allah”.

Al-Quran menghendaki Nabinya menyampaikan dan menyuarakan Islam lewat argumentasi, hikmah, dialog, dan debat dalam cara terbaik, entah kepada kaum Muslim sendiri maupun kepada kaum kafir. Ini sebagaimana firman-Nya:

“Serulah (manusia) pada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik”. (QS. Al-Nahl [16]: 125).

“Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik.” (QS. al-Ankabut [29]: 46).

Kedua ayat ini mengungkapkan strategi dakwah Islam yang dilandasi argumentasi, dalil, dan debat terbaik; sekaligus teguran pada Rasulullah Saw agar tidak melampaui batas-batas etika perdebatan dengan Ahli Kitab. Kalangan ahli tafsir menjelaskan bahwa debat terbaik (jidâl ahsan) merupakan dialog atau debat dalam semangat persaudaraan, kelembutan, jauh dari ucapan kotor dan cacimaki. Seperti ditegaskan Murtadha Muthahari, ayat di atas merupakan salah satu dalil kebebasan memilih agama menurut Islam.

Menuju Titik Persamaan
Pada dasarnya, tujuan utama Islam membuka ruang dialog antaragama adalah untuk memperlihatkan dan membuktikan kebenaran Islam itu sendiri, sehingga pengikut agama lain, berdasarkan intuisi dan pengetahuan, dapat melangkah ke jalan yang lurus. Namun, selain tidak mendukung pandangan populer “Semuanya atau tidak sama sekali”, Al-Quran tetap percaya bahwa ruang dialog itu terbuka sekalipun tidak meninggalkan hasil yang diinginkan.

Dialog antaragama bisa terus berlanjut dalam rangka mencapai hasil-hasil berikut. Ini sebagaimana ayat di atas menginginkan Rasulullah Saw agar, dalam dialognya dengan Ahli Kitab, menjelaskan hubungan ketuhanan antara Muslim dan Ahli Kitab dalam konsep tauhid dan keimanan pada kitab-kitab samawi. Darinya diharapkan lahir embrio kesalingpahaman dan toleransi antarpenganut agama samawi.

Dan katakanlah, “Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri.” (QS. al-Ankabut [29]: 46).

Dalam ayat lain, selain mengajak Ahli Kitab pada konsep ketuhanan yang sama, Allah Swt juga mengingatkan mereka agar tidak menodai esensi ajaran samawi (tauhid) dengan kesyirikan:

Katakanlah, “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun.” (QS. Al Imran [3]: 64).

Ayat di atas menuntut Ahli Kitab berada di bawah satu naungan ajaran langit berupa konsep tauhid serta mempertahankan koeksistensinya dengan kaum Muslim.

Larangan Eksploitasi dan Menyembah Makhluk
Salah satu elemen masyarakat ideal (al-madinah al-fadhilah) atau, istilah dewasa ini, Masyarakat Madani adalah persamaan hak individu dan tak adanya kaum lemah yang mengabdi (menyembah) segelintir orang kuat dan kaya. Dengan kata lain, eksploitasi individu atau rezim tertentu harus dihapuskan dari tatanan sosial, untuk kemudian digantikan dengan kebebasan dan kesamaan hak seluruh individu manusia.

Al-Quran juga tidak mengabaikan asas ini. Karena itu, Tuhan memperingatkan seorang nabi yang, dengan kekuatan, menyeru umat kepada ketaatan dan penghambaan pada-Nya. Dalam ayat lain juga disebutkan tujuan para nabi untuk membebaskan umat manusia dari belenggu perbudakan anti-tuhan (thaghut), seperti:

Tidak wajar bagi seorang manusia yang Allah berikan kepadanya Alkitab, hikmah, dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia, “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.” (QS. Al Imran [3]: 79).

Dalam ayat di bawah ini, Allah Swt menjelaskan tugas Rasulullah Saw sebagai pembebas umat manusia dari belenggu penjajahan kaum elite: “Dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka”. (QS. al-A’raf [7]: 157).

Dalam ayat lain, Allah Swt juga memperingatkan Ahli Kitab mengenai arogansi, sikap rasis dan eksploitasi masyarakat. Ini agar semua itu tidak sampai menodai kerukunan antarumat beragama.

Katakanlah, “Hai Ahli Kitab! … tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian lain sebagai tuhan selain Allah.” (QS. Al Imran [3]: 64).

Ali bin Abi Thalib juga menjelaskan tujuan diutusnya Nabi Saw: membebaskan umat manusia dari eksploitasi individu dan penyembahan makhluk, dan menuntun pada penyembahan terhadap pencipta hakiki:

“Allah telah mengutus Muhammad untuk membebaskan hamba-Nya dari penyembahan makhluk kepada [penyembahan] Sang Pencipta”. ( Nahj Al-Balaghoh, pidato ke-154.)

Toleransi dan Berbuat Baik pada Orang Kafir
Dari penjelasan ayat-ayat sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa Islam hanya toleran pada sesama pengikut agama langit, seperti Yahudi dan Nasrani. Adapun terhadap orang kafir dan politeis, toleransi tidak berlaku. Bahkan Al-Quran selalu memerangi mereka. Namun, ini anggapan keliru tentang bagaimana Islam menyikapi orang kafir. Marilah merenungkan kembali ayat-ayat yang dimaksud.

Rangkaian ayat jihad memberi solusi bahwa jihad melawan orang kafir dilancarkan bila mereka memang memerangi Islam dan Muslim. Seandainya orang kafir puas dengan kekafiran dan kemusyrikannya, serta tidak mengganggu dan memusuhi Islam, Al-Quran tidak hanya melarang memerangi mereka, bahkan memerintahkan Nabi Saw berdamai dengan mereka.

“Dan jika mereka condong pada perdamaian, maka condonglah padanya dan bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Dia Mahadengar lagi Mahatahu.” (QS. al-Anfal [8]: 61).

Tetapi jika mereka membiarkan kamu, dan tidak memerangi kamu serta mengemukakan perdamaian kepadamu, maka Allah tidak memberi jalan bagimu (untuk menawan dan membunuh) mereka.” (QS. al-Nisa [4]: 90).

Begitu pula dengan orang munafik. Dalam sebuah ayat, setelah teks perintah memerangi orang-orang munafik dalam sebuah peperangan, Allah Swt juga menyuruh kaum Muslim berdamai dengan mereka (orang-orang munafik). Khususnya bila antara mereka dan kaum Muslim terikat perjanjian atau mereka sudah bosan dengan peperangan dan cenderung berdamai.

Maka jika mereka berpaling, tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya, dan janganlah kamu ambil seorang pun di antara mereka menjadi pelindung, dan jangan (pula) menjadi penolong. Kecuali orang-orang yang meminta perlindungan kepada sesuatu kaum, yang antara kamu dan kaum itu telah ada perjanjian (damai) atau orang-orang yang datang kepada kamu sedang hati mereka merasa keberatan untuk memerangi kamu dan memerangi kaumnya.” (QS. al-Nisa [4]: 90).

Selain menyerukan hidup berdampingan damai, Al-Quran juga mengajak kaum Muslim berbuat baik dan berlaku adil sekaitan dengan hak-hak orang kafir. “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil”. (QS. al-Mumtahanah [60]: 8).

Dalam ayat ini, Allah Swt tidak mengatakan hanya akidah orang kafir sebagai alasan utama untuk memerangi mereka, melainkan serangan, gangguan, dan kejahatan mereka terhadap kaum Muslim. Karena itu, imbauan berbuat baik berlaku selama mereka tidak memusuhi dan memerangi Islam. “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (QS. al-A’raf [7]: 199).

Ayat ini termasuk salah satu prinsip dasar dan cetak biru etika dan toleransi. Dalam ayat ini, Allah Swt memerintahkan Nabi Muhammad Saw memaafkan (berlaku arif terhadap) orang yang tidak mengimaninya, dan yang kadangkala mengganggu Nabi secara fisik maupun psikis.

Di sini, barangkali muncul pertanyaan; apakah ayat di atas dan sikap pemaaf Nabi Saw hanya berlaku di saat beliau tak punya kekuatan? Sikap pemaaf beliau dalam peristiwa Penaklukkan Mekah kepada seluruh orang kafir dan musyrik yang selalu mengganggu, menyiksa, mengasingkan, bahkan menerornya, menjadi bukti konkret atas rapuhnya klaim tersebut.

Dalam ayat lain, Al-Quran melarang Muslim mengecam dan memaki orang kafir berikut sesembahannya. Ini agar orang-orang kafir tidak sampai menistakan kesucian Islam berikut simbol-simbolnya. “Dan janganlah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.” (QS. Al-An’am [6]: 108).

Demikianlah sekilas uraian seputar sejumlah ayat Al-Quran yang membuktikan cetak biru konsep toleransi dan kerukunan hidup beragama untuk menciptakan masyarakat ideal (al-madinah al-fadhilah) atau Masyarakat Madani. [HPI Iran]

Disarikan oleh Bin Turkan dari buku Quran va Pluralism, Muhammad Qadardan Qaramaleki.

Share :

2 Comments on “Cetak Biru Toleransi Agama dan Sosial; Menuju Masyarakat Madani”

    1. Cetak biru dalam bahasa Inggris adalah blueprint. Istiah ini merujuk pada kerangka kerja terperinci sebagai landasan dalam pembuatan kebijakan yang meliputi penetapan tujuan dan sasaran, penyusunan strategi, pelaksanaan program dan fokus kegiatan serta langkah-langkah atau implementasi yang harus dilaksanakan oleh setiap unit di lingkungan kerja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.