Tentang Situs HPI Iran

Dalam sebuah hadis yang mayshur dikatan, “Jika kamu jadikan air laut sebagai tinta untuk menuliskan ilmu-ilmu Allah, maka tidak akan cukup air laut tersebut”. Hadis ini menjelaskan bahwa sesunguhnya ilmu Allah itu tidak terbatas, include di dalam exsistensinya yang tidak terbatas pula. Begitu juga dengan al-Quran, yang merupakan manifestasi ilmu Allah yang terjawantahkan dalam kalimat-kalimat yang bisa dibaca manusia, juga mengandung kedalaman ilmu yang sangat luas dan tidak terbatas. Bahkan disebutkan kalau bukan orang suci yang menafsirkannya, maka tidak akan sampai pada hakekat tujuan Sang Mutakallim (Allah swt). Dan bukan hanya al-Quran saja, semua ilmu termasuk didalamnya ilmu-ilmu keislaman, pada hahekatnya adalah berangkat dari sumber yangs satu, maka hakekat ilmu tersebut pun tidak terbatas.

Maha berilmu, sudah menjadi sifat Allah yang mutlak, sehingga wajar pada diri-Nya ada konsekuensi kecintaan terhadap hambanya yang memperdalam ilmu pengetahuan dan akan memberikan reward yang berganda bagi yang mengajar, belajar, menyebarkan ilmu dan semua yang bereratan dengan keilmuan. Bagi masyarakat muslim dorongan dari Sang Khalik dan Rasul untuk memperdalam pengetahuan terutama ilmu keislaman (mengenal eksistensi Allah dan hukum-Nya) sudah menjadi jamak, sebagaimana termaktub didalam al-Quran dan Hadis. Akan tetapi yang sangat disesalkan pesan suci ini seakan sudah dilupakan oleh umat Islam. Yang lebih tragis lagi, ada sebagian masyarakat muslim yang mengharamkan akal dalam memperdalam keimanan, sehingga praktis sumber dan pondasi ilmu yang utama telah dimatikan. Dan hal ini adalah sebuah petaka besar umat. Karena menafikan salah sumber pengetahuan yang utama.

Harapan kita sebagai mahasiswa dan pelajarIndonesia di Iran, kajian dan pengembangan ilmu keislaman tidak boleh berhenti. Dengan berhentinya kajian dan pengembangan ilmu keislaman maka pada dasarnya berhentilah agama Islam itu sendiri, Islam akan hanya akan menjadi sekedar pajangan dan atribut yang tidak bermakna. Yang lebih tragis lagi modal optimisme umat Islam yang telah habis. Apakah benar optimisme umat Islam masih tersisa? Jelas kalaupun optimisme ini sudah jatuh sampai pada titik nadir, optimisme kita mesti dibangun kembali. Karena hanya dengan harapan dan optimisme masa depan akan diraih. Ketiadaan harapan, cita-cita dan optimisme, maka tidak mungkin harapan akan maujud di alam realitas.

Mahasiswa dan pelajar Indonesia di Republik Islam Iran yang sebagian besar saat ini sedang memperdalam ilmu keislaman, mempunyai tanggung jawab yang besar untuk menggali kedalaman ilmu keislaman. Sebenarnya di pundak merekalah harapan bagi bersinarnya ilmu keislaman dengan berbagai ragamnya. Ketika melihat beban yang sangat besar ini, mungkin kita akan menjadi pesimis, akan tetapi dengan besar hati kita mesti mencoba dengan segala kemampuan yang ada untuk mewujudkan harapan tersebut. Bukankah Allah Swt tidak akan membebani hambanya di luar kemampuannya? Kalimat terlahir inilah yang selalu menggelitik dan menjadi pendorong bagi kita.

www.hpiiran.com
Kehadiran situs www.hpiiran.com yang mengusung pemikiran dan gagasan Islam pelajar dan mahasiswa Iran khususnya tidak lain ingin mewujudkan harapan diatas. Yang semuanya diperuntukkan untuk mengabdi pada kemanusiaan. Untuk melayani kemanusian? Mendalami ilmu agama untuk melayani kemanusiaan. Mungkin terlalu muluk cita-cita tersebut, toh ilmu melayani kemanusian adalah utopia kata sebagian orang. Apalagi ilmu keislaman. Karena ulama (kyai, pemikir Islam) selalu bersekutu dengan kekuasaan dan dengan pengetahuan agamanya mereka meninabobokkan rakyat sehingga tidak berani menuntut hak-haknya, begitulah kata Marx, agama candu buat rakyat. Bukan hanya kaum burjuis dan sekuler, bahkan kaum agamawan pun mulai mengkomersialkan ilmunya. Benar bahwa ilmu itu mahal harganya, tetapi bukan berarti sang ruhaniawan juga mesti menjual diri demi sesuap nasi.

Senada dengan apa yang ditulis dalam alinea pertama, di zaman modern, almarhum Ayatullah Uzma Imam Khomeini, Bapak Revolusi Islam pernah mengatakan “Saya sungguh-sungguh berharap bahwa perjalanan manusia sampai pada satau titik dimana senapan-senapan dirubah menjadi pena, karena pena melayani kemanusiaan, sedangkan senapan tidak”. Begitulah saat ini. Kita hidup di zaman dimana alat perang, kekuasaan, kesombongan telah menguasai manusia. Tapi kita tidak boleh pesismis, harapan itu selalu ada dan dia selalu minta untuk direalisasikan.

Redaksi HPI Iran berharap, kehadiran on-line situs ini kami harapkan mampu menjadi bursa gagasan keislaman bagi pelajar dan mahasiswa khususnya dan masyarakat intelektual lainnya. Selain itu kami berharap online situs ini mampu menjadi data base pemikiran pelajar dan mahasiswa Indonesia di mana saja. []

Redaksi HPI IRAN

Share :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *