Revolusi Islam Iran; Sebuah Ledakan Cahaya

Kebangkitan Ulama Sebelum Revolusi
Revolusi Islam di Iran memiliki aspek yang khusus buat Iran, seperti kejadian-kejadian yang menyebabkan munculnya Revolusi Islam.

Hal yang mesti diketahui dari aspek ini adalah, sekitar 200 tahun sebelum revolusi, telah banyak terjadi kebangkitan yang dipimpin oleh para ulama. Sebagian menentang hegemoni dunia, sebagian melawan kediktatoran dalam negeri.

Terdapat sekitar 80 kebangkitan sebelum revolusi. Sebagian memiliki jangkauan nasional, sebagian hanya bertaraf lokal.
Revolusi yang dibawa Imam Khomeini adalah “hasil” dari kebangkitan-kebangkitan ini. Tanpa kebangkitan-kebangkitan tersebut, revolusi besar yang memiliki efek luar biasa ini tak akan terjadi. Imam Khomeini tidak diturunkan dari langit. Beliau muncul dari “rahim” sejarah Iran. Bagaikan anak-anak sungai yang bersatu di sebuah sungai besar. Sungai besar inilah revolusi. Kita tidak boleh menganggap remeh kebangkitan dan para ulama yang menggerakkan kebangkitan-kebangkitan tersebut. Abai terhadap poin ini bisa mereduksi analisa kita terhadap revolusi.

Dalam revolusi Tunisia 2011, Rasyid Ghanouci pernah mengatakan, “Aku bukan Imam Khomeini, bahkan aku tak mau menjadi seperti beliau.” Sebagian orang merasa tidak senang dengan perkataan ini, dan merasa dilecehkan. Tapi saya katakan, “Saya justru senang dengan perkataan itu. Karena, jika ia ingin seperti Khomeini, maka itu adalah penghinaan bagi kami, penghinaan bagi sejarah kami. Imam tidak turun dari langit. Beliau muncul dari inti sejarah Iran. Beliau berhasil setelah terjadi 80 kebangkitan. Jika dibandingkan, maka hasilnya adalah: betapa bodohnya orang Iran. Mereka melakukan lebih dari 80 kebangkitan baru berhasil revolusi. Sedangkan negara fulan cukup sekali dan langsung berhasil.”

“Kalian mesti melakukan banyak perlawanan. Kalah, menang, memproduksi manusia, ilmu, dan pengalaman. Barulah mungkin kalian bisa menghasilkan orang seperti Imam Khomeini.”

Imam Khomeini adalah hasil dari peran puluhan ulama di bidang politik. Dalam revolusi konstitusional (masyruteh), lebih dari seratus ulama aktif di berbagai bidang. Memimpin masyarakat, menulis buku, dan bangkit melawan. Dalam 200 tahun terakhir, terdapat lebih dari 100 mujtahid yang dibunuh dan ditembak mati dalam perlawanan melawan kediktatoran.

Imam Khomeini bukan hanya hasil dari perjalanan panjang itu, tapi juga hasil dari keinginan masyarakat Iran yang mengerti pentingnya seorang faqih. Imam Khomeini menjadi Imam Khomeini karena masyarakat Iran berkembang selama kebangkitan-kebangkitan itu. Imam Khomeini adalah warisan ulama-ulama terdahulu. Imam adalah sebuah mata rantai dari rangkaian mata rantai ke-faqih-an ulama Iran. Hanya saja, mata rantai yang satu ini lebih hebat dari mata rantai lain. Jika mata rantai yang lain adalah perak, maka Imam Khomeini adalah emas.

Kondisi Dunia Ketika Terjadi Revolusi
Poin kedua dalam revolusi dan menjadi pertanyaan adalah: Revolusi Islam muncul dalam keadaan dan kondisi seperti apa?

Terdapat sebuah ensiklopedia yang membahas dunia dan segala permasalahannya dari segi budaya dan sosial, dalam seratus tahun sebelum revolusi. Ensiklopedia abad ke-18, 53 jilid. Dikatakan bahwa abad ke-18 adalah abad ateisme. 200 ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu, seperti fisika, sastra, musik, seni dst., menulis ensiklopedia ini selama satu abad.

Ilmuwan-ilmuwan tersebut menjawab satu pertanyaan, sesuai disiplin ilmu mereka: dunia dengan Tuhan lebih baik atau tanpa Tuhan? Semuanya memberi jawaban: tanpa Tuhan lebih baik.

Di akhir abad 19, Neitsche bahkan mengatakan Tuhan telah mati. Di sisi lain, sekularisme telah menjadi hal yang lumrah di banyak negara. Sekalipun Tuhan masih memiliki “tempat”, namun tempat tersebut sangat terbatas. Makna dari sekularisme adalah bahwa Tuhan jangan datang dan dihadirkan di jalan-jalan, di kantor-kantor, di rumah-rumah, sekolah-sekolah, kampus-kampus. Arti lain dari sekularis me adalah bahwa manusia lah yang menentukan “kehadiran” Tuhan.

Bahkan, sebagian orang mengatakan, Tuhan sebenarnya sejak awal tak ada. Manusia lah yang menciptakan Tuhan. Seperti yang dimaksud oleh Feuerbach dengan teori alienasi-nya:Manusia memiliki sifat baik dan buruk. Sifat baik seperti kejujuran, keberanian, kesetiaan, peringai yang luhur, dll. Sifat buruk adalah lawan dari sifat-sifat tadi. Lebih lanjut Feuerbach mengatakan manusia sudah terbiasa dengan sifat-sifat buruk. Karena keterbiasaannya dengan sifat buruk itulah, ia akan merasa heran dan tidak percaya terhadap sifat baik yang terkadang muncul dari dirinya. Ia tak bisa percaya, sifat baik itu adalah miliknya.

Sifat baik ini pasti milik suatu oknum yang lebih baik dari kita. Oknum itu disebut Tuhan dan sifat baik tersebut di-atributkan kepada Tuhan tersebut. Inilah arti dari keterasingan diri (alienasi) manusia menurut Feuerbach. Bahwa manusia menciptakan Tuhan ketika ia terasing dari dirinya sendiri.

Di abad-abad selanjutnya muncul teori-teori dengan cendikiawan semisal Marx, Sartre, Russell, Freud yang semuanya mempertanyakan kebenaran agama. Sebagian mengatakan bahwa agama muncul dari rasa takut manusia, kebodohan, maupun hasrat seksualnya.

Beginilah kondisi dunia di masa revolusi. Negara-negara muslim juga berada di bawah kontrol blok Timur maupun Barat. Agama ditinggalkan. Muslimin dijajah, dan hidup dalam kesusahan. Dalam kondisi seperti ini, tiba-tiba bangkit seorang kakek tua sambil menyebut-nyebut nama Tuhan. Berserah dirilah kepada Tuhan. Janji kemenangan dari Tuhan bersama kita. Jangan lupakan Tuhan.

Dunia merasa aneh dengan kata-kata Imam. Mereka bertanya, “Apa yang kau katakan?”

Tuhannya Imam bukanlah Tuhan yang melakukan kudeta satu malam; masyarakat tertidur di malam hari, dan di pagi hari mereka mendapati pemerintahan negara mereka yang telah digulingkan Imam, dan dia sendiri menjadi Syah (raja).

Minimal 15 tahun, Imam sudah berbicara tentang Tuhan di hadapan kamera dunia. 15 tahun masyarakat dunia melihat Imam dengan mata penuh selidik. Mereka ingin tahu, Tuhan Agha Khomeini punya daya atau tak berdaya.

Seluruh Komponen Tidak Mendukung Imam
Ervand Abrahamian, seorang keturunan Iran yang tinggal di Amerika, pernah menulis buku yang berjudul “Iran Between Two Revolutions“, yang terbit pertama kali pada tahun 1982.

Dalam buku ini, Abrahamian menulis penyebab bergeraknya masyarakat menuju Imam. Ia mengumpulkan data dan statistik. Dalam buku itu, dijabarkan kemampuan militer Syah yang mumpuni, budget negara yang besar.

Di masa itu, militer Iran termasuk salah satu militer terkuat dunia. AU Iran terkuat di Timteng. AL Iran terkuat di Semenanjung Persia. Terdapat kebebasan politik, dan seterusnya. Dengan semua kekuatan ini, mengapa masyarakat malah memilih Imam Khomeini?

Maka, Abrahamian mulai meneliti Imam. Berapa uang yang dimiliki Imam? Nol. Negara adidaya mana yang mendukung Imam? Tak ada. Imam punya berapa tentara? Nihil. Imam tak memiliki apa-apa. Ia bingung, bagaimana mungkin masyarakat memilih Imam? Lebih mengherankan lagi, mengapa pembesar militer juga bergabung dengan Imam!?

Setelah kurang lebih dalam 20 halaman buku itu membahas data dan statistik, Abrahamian sampai kepada kesimpulan bahwa,
“Masyarakat melihat Imam Khomeini sebagai manifestasi Ali bin Abi Thalib di abad 20.”

Masyarakat lantas meminta izin Imam untuk mengangkat senjata. Tapi Imam menolak. “Jalanku bukanlah senjata”. Mereka melawan tank dan kendaraan perang dengan kepalan tangan kosong dan dada sebagai perisai. Perlawanan ini bahkan sampai ke titik dimana masyarakat meletakkan tangkai bunga di ujung laras senapan tentara Syah.

Imam berhasil mengeluarkan Syah yang dibantu Amerika dari Iran. Hal ini menyebabkan masyarakat dunia mulai merasa bahwa Tuhannya Khomeini bukan tanpa daya. Sepertinya Tuhannya Khomeini belum mati.

Revolusi Islam Iran, Sebuah Ledakan Cahaya
Setelah Revolusi Iran, masyarakat dunia berbondong-bondong kembali kepada Tuhan. Tuhan kini sudah hadir di rumah-rumah dan jalan-jalan. Tuhan tak lagi tanpa daya. Imam telah memberikan gambaran yang sempurna dari agama kepada dunia.

Ketika Tuhannya Barat dan Timur telah mati, ketika banyak cendikiawan yang menyatakan kematian Tuhan, tiba-tiba semangat beragama muncul di seluruh belahan dunia. Seorang Yahudi pergi ke sinagog, seorang kristen pergi ke gereja, setiap manusia tetap memercayai Tuhannya, semuanya merupakan hasil dan buah dari usaha Imam Khomeini. Semuanya karena berkah dari revolusi Islam.

Revolusi ini adalah sebuah ledakan cahaya. Dan gelombang revolusi ini telah menyebar ke seluruh pelosok dunia. Apa penyebabnya? Allah swt berfirman, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan membanyakkan kalian.” (Q. S. Ibrahim: 7)

Kebanyakan orang salah memahami ayat ini. Sebagian mengatakan bahwa maksud ayat ini adalah apabila kalian bersyukur, maka Tuhan akan menambah nikmat-Nya kepada kalian. Ini adalah penafsiran tidak benar. Allah swt tidak berkata, “Akan Aku tambahkan nikmat kalian”. Tapi, menambahkan kalian. Dia akan mengembangkan kalian. Kalian akan menjadi banyak, bukan nikmat kalian yang bertambah banyak.

Imam menyalakan sebuah ledakan. Dan ledakan ini adalah sebuah ledakan cahaya. Ledakan agama. Efek ledakan ini adalah Islam kembali menjadi pusat perhatian. Dan Barat, dengan semua pekerjaannya, tetap tak mampu menghalangi ledakan ini.

Kesimpulannya adalah revolusi Islam merupakan sebuah revolusi cahaya yang menerangi kegelapan dunia.

Ujian Merupakan Keniscayaan
Ada sebuah pepatah Iran yang mengatakan, “Semakin tinggi atap sebuah rumah, semakin banyak salju yang menutupinya.” Dalam irfan dijelaskan bahwa barang siapa yang semakin dekat dengan Tuhan, semakin tertimpa banyak musibah. Semakin ke depan, semakin banyak cobaan dan ujian. Ibrahim, Sang Khalil, diuji dengan api, dan diperintahkan menyembelih anak sendiri.

Beginilah sistem Ilahi. Semakin dekat, semakin banyak tertimpa bala dam cobaan. Hanya saja, bala dan cobaan ini akan membesarkan, menguatkan, dan menyempurnakanmu. Beginilah sunnatullah.

Hal ini juga berlaku dalam semua bidang kehidupan; akademik, keimanan, dll. Hal ini tidak hanya berlaku bagi individu saja, tapi juga bagi masyarakat.

Kekuatan Iran
Jika bangsa Iran ingin berkembang, maka Iran mesti tertimpa musibah. Demikian pula bagi seluruh bangsa. Musibah itu bisa berupa embargo, pemutusan hubungan kerja, maupun tekanan-tekanan Internasional.

Pesan revolusi ini bagi bangsa lain adalah bahwa Iran telah berhasil melakukan revolusi. Jangan biarkan mereka mencuri, dan merampas hak-hak kalian. Maka jelaslah negara-negara adidaya akan senantiasa mencoba menghentikan pengaruh Iran. Jika tidak dihentikan, maka bangsa-bangsa lain akan tersadar. Oleh karena itu, seluruh kekuatan imperialisme dunia bersatu melawan Iran. Mereka menekan Iran. Dan Iran merasakan tekanan itu.

Meski demikian, Iran senantiasa bergerak maju. Iran mampu menguasai tekanan-tekanan tersebut. Kini, Iran mampu menggelitik seluruh pelosok dunia. Di mana saja. Apakah kalian berpikir Amerika, dalam 40 tahun ini, tidak menyerang Iran karena kebijaksanaan mereka? Amerika itu keji di seluruh dunia. Predator, perampas dan pembunuh. Kini mereka mau menjadi bijaksana dengan tidak menyerang Iran? Tidak. Ini bukan masalah kebijaksanaan. Setiap hari mereka berusaha menyerang Iran, tapi selalu gagal.

Menyerang Iran sangat berbahaya, berbiaya mahal dan tidak sesuai dengan kondisi Amerika. Mereka tidak menyerang Iran bukan karena bijaksana, tapi karena tidak mampu.

Penyebab Ketakutan Israel
Dalam perang Arab-Israel 1978, Israel tidak memiliki tentara. Dibandingkan Mesir, Suriah, dll tentara Israel tidak ada apa-apanya. Seluruh kekuatan Israel terletak di kekuatan udara mereka. Perang ini pun berakhir dengan keuntungan Israel, karena kekuatan udara mereka.

Dalam perang Hizbullah-Israel yang berlangsung sekitar 25 tahun ini, wilayah darat berada dalam kekuasaan Hizbullah, sedangkan udara dalam cengkraman Israel.

Sekarang perang dengan ISIS telah berakhir, dan pesawat Israel telah berhasil dihancurkan pasukan Hizbullah. Ini adalah sebuah pesan kepada Israel, “Kalian sekarang tak aman lagi, bahkan di udara.”

Bagaimana Israel menganalisa hal ini? Dari mana roket-roket ini datang? Dari Suriah yang hancur karena perang. Dari tempat yang antah berantah. Di mana mereka yang menghantam roket ini? Israel telah mengkalkulasikan ini semua.

Beberapa tahun lalu, Mossad membunuh 6 ilmuwan nuklir Iran. Mereka juga mengakui hal ini. Berkaitan dengan hal ini, Imam Ali Khamenei berucap singkat dan padat, “Nyatanya, kami telah membalas perbuatan mereka.”

Dalam perang Suriah, salah satu jenderal Iran dibunuh oleh Israel dengan bom udara. Syahid Allahdadi. Sesaat setelah mereka tahu salah satu jenderal Iran terbunuh, 2 koran nasional Israel langsung membuat judul besar, “Kami mendapatkan info yang salah. Kami tidak tahu ada jenderal Iran di situ. Jika tahu, kita tidak akan menembaknya.”

Malamnya, menteri pertahanan Israel mengulangi pernyataan koran ini. Di minggu itu, Sekjen PBB Ban Ki Moon mengirim seorang utusan untuk bertemu Sayyid Hasan Nashrullah. Orang itu berkata, Netanyahu meminta Ban Ki Moon untuk memberi tahu Sayyid Hasan bahwa Israel tidak tahu, ada jenderal Iran disitu. Jika tahu, Israel tidak akan menjatuhkan bom.

Kenapa Israel, musuh besar Iran, ketakutan setelah membunuh jenderal Iran? Tentu ketakutan Israel ini beralasan.

Sekarang mereka menyerang jenderal Iran, dan ketakutan. Mereka tahu pasti Iran akan membalas dengan membunuh salah satu jenderal mereka. Iran telah siap. Kemanapun Israel pergi, mereka melihat Sepah Pasdaran (IRGC). Iran telah menyerang sarang lebah. Tapi Iran siap. Iran merusak keuntungan imperialisme dunia. Sangat wajar jika mereka bersatu menyerang Iran. Tekanan, embargo, dan serangan-serangan mereka adalah hal yang wajar bagi pergerakan Iran.

Dengan ini semua, maka adalah hal yang wajar jika terjadi sesekali terjadi pergolakan di dalam Iran. Ini adalah fase penyempurnaan yang mesti dilalui. [HPI Iran]

Translate: Alamsyah Manu

Makalah diatas adalah translate dari ceramah Dr. Rahdar dalam Seminar 22 Bahman yang diadakan oleh Himpunan Pelajar Indonesia Iran (HPI Iran), pada Ahad, 11 Februari 2018 di sekretariat HPI. Pembanding seminar dari pihak HPI adalah  Nasir Dimyati, kandidat Doktor di Jamiatul Musthafa.

Share :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *