Islam Sebagai Basis

Ayatullah M. Baqir Sadr

Oleh: Ayatullah Muhammad Baqir al-Sadr

Secara umum, peradaban Barat dengan segenap konsep, ide dan kandungan kulturalnya berdiri di atas satu basis pemikiran, yaitu demokrasi, atau lebih tepatnya, kebebasan yang seluas-luasnya di bidang intektualitas, agama, politik dan ekonomi. Dalam rasionalitas peradaban Barat, kebebasan ini merupakan pilar budaya mereka dan poros pemikiran yang menjaring unit-unit pandangan Barat mengenai manusia, hidup, dunia, dan masyarakat.

Lebih dari sekadar di atas tadi, bahwasanya konsep kebebasan dalam jajaran intelektual Barat menyangkut bidang-bidang ilmu sosial. Studi-studi humaniora mereka tidak bisa diamankan secara objektif dari pengaruh misi kebebasan yang mereka percayai sebagai basis tunggal.

Pengaruh faham kebebasan individu atas perundang-undangan ekonomi-politik, ataupun atas kecenderungan-kecenderungan psikologis pada sebagian aliran Psikologi analitik yang digagas oleh Frued dan kaum unkonsius lainnya, semua ini adalah sisa-sisa fakta yang begitu jelas mendukung penekanan saya akan adanya hubungan yang begitu erat antara konsep-konsep peradaban Barat dan basis pemikiran yang melandasinya, serta misi sosial yang dipropagandakannya.

Kenyataan di atas tadi persis yang juga kita saksikan pada peradaban Marxisme yang bersaing ketat dengan peradaban Kapitalisme dalam setiap lini dan kesempatan. Misi mereka, yang mentabligkan sebuah pandangan materialistik tentang kehidupan, dunia, masyarakat dan sejarah, adalah titik sentral yang menghimpun semua konsep dan ide-ide peradaban yang mereka percayai dan berusaha ditegakkan.

Tentunya, peran misi di sini, yakni sebagai basis utama pemikiran dalam peradaban Barat, tidak berarti bahwa misi itu secara langsung mampu menyediakan semua konsep dan gagasan yang dibutuhkan oleh seorang ideolog dan pemikir dalam setiap bidang, sehingga kemunculan tiap-tiap konsep mesti berpangkal padanya. Tetapi, menempatkan misi pada posisi inti dalam pemikiran keberadaban, yaitu usaha mempertemukan dan menyelaraskan ruh dan substansi misi dengan ide dan pemikiran peradaban yang dibangun. Karena, sebuah keniscayaan logis dan alami bahwa manakala suatu misi itu diterima sebagai kebenaran, ia akan menolak segala ide dan pemikiran yang berkaitan dengan bidang-bidang kehidupan manusia, kalau memang ide dan pemikiran itu bertolak belakang dengannya. Maka itu, serangkaian ide dan pemikiran yang mengkonstruksi peradaban yang berkekuatan misi akan beradaptasi dengan basis-basis misi peradaban tersebut, serta berusaha untuk tidak bertentangan dengannya, apakah ide dan pemikiran itu turunan logis basis-basis tersebut ataupun bukan.

Demikian itu adalah fakta yang kian nyata di sepanjang penelusuran atas kedua realitas peradaban yang terus bergulat pada hari-hari ini di kancah pemikiran Barat.

Basis Pemikiran Islam

Berikut ini saya akan mencoba membawa Anda memahami satu pendirian di tengah realita di atas itu.

Pertama: semestinya kita mengerahkan kejelian dan kesadaran seoptimal mungkin tatkala kita mempelajari ide dan pemikiran Barat, supaya kita dapat menariknya keluar dari pusaran misinya, lalu mengukur sejauh mana keterkaitan serta keterpengaruhannya oleh pusaran tersebut. Dengan cara ini, sesungguhnya kita telah mengambil jalan tengah. Inilah jalan yang harus ditempuh oleh seorang muslim yang tanggap, sadar, dan waspada atas setiap konsep dan pemikiran Barat yang –secara langsung ataupun tidak- berurusan dengan bidang-bidang yang digarap oleh idologi Islam dan dikonstruksikan oleh basis pemikirannya.

Terlepas dari ada tidaknya kerangka tertentu pada suatu pemikiran ataupun konsep-konsepnya yang dibetot dari satu basis, merupakan kesalahan fatal meneledorkan aspek penting itu, yakni aspek keterkaitan antara satu pemikiran dan upaya mempelajari pemikiran, sebagaimana yang kita temukan pada sebagian besar pemikir muslim sekarang dalam memperajari pemikiran-pemikiran para ahli ilmu-ilmu Sosiologi, Psikologi, dan Sejarah versi Barat.

Maka, awal dari segala sesuatu yang harus dicamkan secara konsisten ialah mengkaji sejauh mana kaitan satu pemikiran yang tengah dikaji dengan basis yang telah terbukti kerapuhannya. Dan, berdasarkan kaitan ini, pencermatan kita harus terfokus pada pemikiran tersebut, lalu memberikan keputusan menolak atau menerima, sesuai dengan kesimpulan yang kita tarik dari kajian ini.

Sama fatalnya dengan kesalahan di atas tadi, tatkala sebagian ulama dan pemikir Islam memvonis mati semua pemikiran Barat yang berhubungan dengan realitas hidup manusia, sebelum akhirnya mereka melepaskan coup de grace untuk meyakinkan kita bahwa selama basis pemikiran itu rapuh, maka apa saja yang disimpulkan darinya pasti salah.

Bahwasanya penyimpulan satu pemikiran dari suatu basis dalam bidang-bidang teoritis tidak berarti bahwa ia adalah hasil yang niscaya dari inferensi basis tersebut, tidak pula berarti bahwa validitas pemikiran itu bergantung mutlak kepadanya. Akan tetapi, sebagaimana yang telah saya isyaratkan, pemikiran itu ditampung untuk dituangkan ke dalam penafsiran yang tidak bertentangan dengan basis yang kita anut sendiri, baik pemikiran itu ditarik langsung darinya ataupun tidak. Adapun basis pemikiran itu sendiri, kalaupun salah, hal ini tidak melazimkan salahnya setiap pemikiran dan konsep yang tidak bertentangan dengan (dasar) yang salah.

Kedua: adalah kewajiban semua kaum muslim supaya menjadikan Islam sebagai basis pemikiran dan kerangka umum untuk setiap konsep peradaban dan pemikiran tentang dunia, tentang kehidupan, tentang kemanusiaan, dan tentang kemasyarakatan. Nyaris tidak perlu dinyatakan lagi bahwa keimanan Islam sendiri merepresentasikan satu basis dan menghadirkannya secara nyata dalam jiwa setiap muslim.

Hanya persoalannya sekarang ini, tatkala keimanan ini mengalir dalam jiwa kebanyakan kaum muslim tanpa dilengkapi kesadaran yang penuh, kita menyaksikan secara memprihatinkan bagaimana mereka itu tidak lagi berlindung pada dataran yang semestinya; yakni dataran yang diguyur aspal misi Islam sebagai kerangka umum pemikiran umat.

Persoalan itulah yang menjadi titik beda antara misi Islam dan misi-misi Barat seputar pandangan mereka terhadap kerangka umum pemikiran. titik beda itu tidak berasal dari dalam esensi misi mereka, tetapi lebih merupakan konsekuensi dari perbedaan tingkat kesadaran dan kepekaan mentalitas setiap golongan terhadap misi masing-masing.

Diakui atau tidak, ada perasaan getir yang menuntut peran aktif dari misi yang konstruktif dalam berbagai bidang pemikiran dan pergerakan. Inilah perasaan yang tengah menggelinjang di sekujur wujud umat muslim. Inilah keinsafan yang penuh berkah, yang geliat-geliatnya kian menggetarkan di berbagai titik dunia. Inilah runtutan gelombang spiritual yang semakin berlipat-lipat dan mengantarkan arus kepekaan religius yang begitu kuat.

Semua ini menegaskan bahwa misi dan misi suci Islam telah kembali bergerak di dalam jalurnya menuju posisi porosnya yang hakiki, menuju pusaran basis pemikiran di dalam inteletualitas Islam. Yakni, ketika umat Islam menghidupkan kembali keimanan meraka pada misi secara sadar, bukan secara taklid buta, dan memupuk kembali ketulusan mereka kepadanya sepenuh-penuhnya, bukan ketulusan palsu yang cuma bersandar pada silsilah keturunan dan lingkungan.

Niscaya Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda nyata (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-qur’an itu adalah benar. Maka, apakah Tuhanmu tidak cukup (bagimu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?” (QS:41/53). [HPI Iran]

Share :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *