Pertarungan Abadi

Prolog

Ketika tanah terbakar itu terbentuk sempurna, Allah meniupkan ruh-Nya ke dalamnya. Adam, nama makhluk dari tanah terbakar itu, tiba-tiba berubah menjadi cahaya nan menyilaukan. Maka tunduk rebahlah seluruh malaikat di hadapannya. Kecuali Iblis. Ia berdiri menentang cahaya Tuhan yang memancar dari Adam.

“Hai Iblis, mengapa kau tak mau bersujud di hadapan manifestasi terindah-Ku?”

“Bagaimana mungkin aku sujud kepada makhluk rendah yang terbuat dari tanah itu? Aku terlalu agung, jauh lebih agung daripada dia.”

“Enyahlah kau, sampai kapanpun kau tak akan mendapat ridha-Ku.”

“Tuhanku, beri aku kesempatan. Akan kubawa keturunannya bersamaku ke neraka-Mu.”

“Maka, lakukanlah yang kau inginkan. Sesungguhnya kau tak berkuasa terhadap hamba-hamba-Ku yang mukhlas.”

***

Pentingnya Mengenal Musuh

Allah swt dalam Kitab Petunjuk berfirman, “Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu, hai Bani Adam, supaya kamu tidak menyembah setan? Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu.”[1]

Rasulullah saw bersabda,

الا و ان اعقل الناس عبد عرف ربه فلطاعه و عرف عدوه فعصاه[2]

“Orang yang paling berakal adalah dia yang mengenal Tuhannya lalu menyembah-Nya, serta mengenal musuhnya lalu memusuhinya.”

Marilah kita memulai tulisan agak-ilmiah ini dengan beberapa pertanyaan:

Mengapa Mesti Ada Permusuhan?

Pertanyaan ini muncul ketika kita melihat kenyataan di dunia ini, bahwa begitu banyak permusuhan yang muncul di antara manusia. Banyak terjadi perang antara manusia. Baik dilatari agama, keinginan memiliki lebih, bahkan ingin menundukkan manusia lain. Al-Qur’an sebenarnya telah menegaskan bahwa pertarungan antara manusia ini telah ada sejak dulu kala. Adalah Habil dan Qabil yang pertama kali saling menumpahkan darah.[3] Syahid Muthahhari, mengenai ayat tersebut, berkata,

“Ketika memulai cerita Habil dan Qabil, al-Qur’an menjelaskan bahwa kisah ini sejatinya adalah peperangan antara dua manusia. Yang satu, manusia yang telah mencapai tujuan dan kepercayaan (aqidah). Manusia pencari kebenaran, pengharap keadilan, dan jauh dari tarikan kematerian. Manusia yang lainnya adalah manusia berwatak hewan.”[4]

Meski demikian, ketimpangan sosial, perbedaan ideologi dan pola pikir sejatinya adalah salah banyak sebab kemajuan dan faktor menuju kesempurnaan sosial manusia. Bahkan pertentangan pola hidup dan pola pikir, hingga perbedaan biologis sebenarnya berasaskan ketentuan penciptaan.[5] Alam materi ini tetap ada karena adanya perbedaan dan pertentangan ini.

Para sosiolog percaya bahwa kelompok yang menentang dan minoritas yang bangkit melawan adalah ‘alat’ menuju kesempurnaan dan kemajuan masyarakat yang memiliki peradaban. Karena, lawan yang ofensif memberikan peringatan dan membeberkan segala kekurangan kepada manusia. Juga memaksa manusia untuk merubah jalan hidupnya, demi mencapai jalan yang lebih baik.[6]

Dari sinilah, manusia tahu bahwa mereka memiliki musuh dari luar. Musuh, yang karena satu-dua hal, berusaha memusnahkannya. Musuh itu, bolehlah, kita beri nama setan.

Namun, menurut al-Qur’an dan riwayat para Manusia Sempurna, manusia tak hanya memiliki musuh dari luar. Kita juga memiliki musuh yang bersemayam di sela-sela sel-sel tubuh kita. Imam Ali as pernah berkata, “Tidak ada musuh yang lebih berbahaya daripada hawa nafsu.”[7] Kita juga sering mendengar perkataan Nabi saw kepada para sahabatnya ketika beliau menyambut mereka yang baru pulang dari peperangan. “Selamat, selamat wahai laskar yang baru pulang dari peperangan kecil. Peperangan agung telah menanti kalian semua.”

Apa Itu Setan?

Dalam ayat yang membuka tulisan ini, Allah azza wa jalla memberikan peringatan kepada manusia, manifestasi keindahan-Nya, agar tak ‘menyembah’ (la ta’budu) setan. Dalam Tafsir Nemuneh disebutkan bahwa ibadah di sini berarti ketundukan (itha’at).[8] Seperti yang tersirat dalam surat al-Mu’minun ayat 47 yang berbunyi, “Dan mereka berkata, ‘Apakah (patut) kita percaya kepada dua orang manusia seperti kita (juga), padahal kaum mereka (Bani Israil) adalah orang-orang yang menghambakan diri kepada kita (‘abidun)?’”

Peringatan dan janji Tuhan ini juga telah disampaikan melalui banyak cara. Sebut saja melalui lisan para nabi ‘alaihimus salam[9], melalui alam takwini dengan cara pemberian akal, serta fitrah dan kecenderungan manusia akan tauhid dan penghambaan kepada Dzat yang Maha Suci.[10]

Maka, arti ayat ini menjadi, “Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu, melalui banyak perantara, hai Bani Adam, supaya kamu tidak mematuhi setan? Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” Lantas, apa itu setan?

Menarik untuk diketahui, bahwa lafaz setan (شیطان) adalah kata asli bahasa Arab. Awalnya, kata ini bermakna tali, lalu kata ini menemukan makna baru yaitu ular, yang memiliki beberapa kesamaan dengan tali. Dari ular, kata ini di-itlaq-kan dengan makna makhluk mujarrad tak terlihat yang memiliki peran unik dalam kehidupan manusia. Al-qur’an memakai lafaz ini dengan makna terakhir, lalu menyempurnakannya. Dalam al-Qur’an setan lalu bermakna setiap makhluk kotor dan jahat yang tak mau mengikuti perintah Allah swt.[11]

Jelaslah, setan adalah musuh bagi setiap individu manusia. Permusuhan ini dimulai ketika Iblis, dedengkot setan, menolak untuk bersujud di hadapan Adam. Iblis berkata, setelah ia memilih untuk mengingkari perintah Tuhan, “Karena Engkau telah menghukum aku tersesat, aku benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian aku akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.”[12]

Namun, setan tetaplah setan. Dia tetap tak memeliki kuasa atas hati manusia. Dalam al-Qur’an jelas disebutkan bahwa pekerjaan setan ‘hanya’ membisiki kesesatan kepada manusia. Manusia-lah, dengan ikhtiar dan keinginannya yang menentukan jalan mana yang bakal ia tempuh. “Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus, ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.”[13] Dengan kata lain, pertarungan sebenarnya bukanlah antara setan dengan manusia. Tapi antara manusia ilahi dan manusia hewani. Nah, pembahasan ini ujung-ujungnya akan kembali kepada pengenalan diri manusia sendiri.

Apa Itu Manusia?

Al-Qur’an memiliki pandangan unik tentang manusia. Sebagian ayatnya memuji manusia, sebagian yang lain mencelanya. Bagian pertama bisa diwakili ayat-ayat berikut ini,

“Dan ingatlah ketika Tuhan-Mu berkata kepada para malaikat, ‘Aku akan menetapkan seorang khalifah di muka bumi.’”[14]

“(Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.”[15]

“Dialah Allah yang menciptakan segala yang ada di bumi untuk kamu…”[16]

Di sisi lain, Al-qur’an menyifati manusia dengan: sangat zalim dan jahil[17], tidak bersyukur terhadap Tuhannya[18], ceroboh dan tergesa-gesa[19], dan lain-lain.

Bagaimana mendamaikan dua kelompok sifat manusia ini? Allamah Thabathabai menjelaskan bahwa ketika al-Qur’an memuliakan manusia dengan menyebut sifat-sifat baiknya, pada hakikatnya al-Qur’an tengah menjelaskan kepribadian sejati manusia.[20] Manusia, sejatinya, adalah makhluk mulia yang diciptakan Allah sedemikian rupa, sehingga bisa mencapai maqam qaba qausaini au adna. Beginilah ruh manusia. Namun, manusia juga memiliki sisi hewani, yang bisa membuatnya menjadi lebih rendah daripada binatang[21].

Syahid Muthahhari berkata, “Manusia, dalam dirinya, memiliki dua ‘jiwa’: Jiwa mulia (ulya) dan jiwa rendah (sufla). Dua jiwa ini senantiasa saling berperang[22].

Pertarungan Haq dan Bathil

Menurut al-Qur’an, pertarungan terhebat manusia adalah pertarungan antara pemeluk kebenaran dan pengikut kejahatan. Pertarungan antara manusia yang telah bebas dari tawanan biologis eksternal, bebas dari tawanan manusia lain, serta bebas dari tawanan hawa nafsu internalnya, manusia yang telah mencapai puncak keimanan dan keyakinan, manusia yang selalu bersandar pada keyakinan dan keimanan, melawan manusia tertawan dan oportunis.[23]

Sepanjang sejarah, manusia selalu terbagi menjadi dua kelompok: yang merdeka dan yang tertawan. Pemisahan dua kelompok ini bermula dari diri manusia itu sendiri. Apakah dia ingin mengikuti perintah Tuhan, ataukah membiarkan dirinya ditipu setan sehingga pergi mencari kepuasan nafsu hewaninya. Hal inilah yang menjadi akar pertarungan sepanjang sejarah.

Islam menolak pandangan yang mengatakan bahwa wujud manusia hanyalah berisi kejahatan dan kelicikan. Manusia, dari dulu sampai sekarang, tak pernah berubah: selalu ingin menumpahkan darah. Setidaknya, ada sebagian filosof dan pemikir yang berpandangan demikian. Setelah membuka lembar sejarah penuh darah manusia, mereka sampai pada kesimpulan bahwa tak ada harapan bagi masa depan manusia. Dari dulu sampai sekarang, manusia tetaplah makhluk yang sangat kejam.

Entah sadar atau tidak, mereka sedang mengulang pertanyaan malaikat ketika Adam diciptakan[24]. Padahal, dalam menjawab pertanyaan malaikat, Allah swt menjawab, “Aku mengetahui apa yang tak kalian ketahui.” Manusia tak hanya memiliki sifat hewani. Manusia memiliki sisi lain yang penuh dengan cahaya. Sisi inilah yang tak diketahui para malaikat. Para nabi, dengan bantuan wahyu-Nya, lantas menjelaskan kepada kita seperti apa hakikat kita yang sebenarnya.

“Wahai manusia! Kenalilah dirimu sendiri! Pahamilah kedudukanmu! Kemuliaan yang ada di dunia ini, tersembunyi dalam dirimu. Karena kau adalah representasi dari alam dunia ini. Ber-akhlak lah dengan akhlak Allah! Ini adalah personifikasi Ilahi yang tersimpan dalam dirimu. Singkaplah hal-hal ini!”[25]

Hal inilah yang tidak diketahui para pemikir-pemikir tersebut. Karena mereka memandang manusia sama dengan hewan, yang tak memiliki sisi malakuti.

Islam juga menolak pendapat yang mengatakan bahwa semua kesusahan manusia bermula dari pembagian kelas sosial. Pembagian kelas sosial ini menghasilkan gesekan sosial. Pergesekan sosial menimbulkan gerakan dan revolusi. Ketika tak ada gesekan, maka otomatis tak akan ada lagi gerakan dan revolusi. Ketiadaan gesekan inilah titik terakhir kesempurnaan manusia.

Dengan kata lain, kesempurnaan manusia berakhir pada ‘tempat pemberhentian’. Setelah tak ada lagi kelas-kelas sosial, maka tak ada lagi permasalahan yang bakal dihadapi manusia. Islam menolak pendapat seperti ini. Dalam islam, tujuan dan jalan kesempurnaan manusia itu tak terbatas. Pertarungan itu senantiasa ada. Karena tujuan akhir manusia bukanlah dunia ini, tapi dunia tak terbatas. Ketika manusia mampu memecahkan masalah duniawinya, maka dari situlah perjalanan dimulai. Manusia mesti melanjutkan perjalanannya menuju kesempurnaan tak terbatas. Para nabi datang untuk membawa manusia menuju perjalanan abadi ini. Ketika manusia berhasil menghilangkan kekurangan-kekurangannya, memenuhi wujudnya dengan sinar Ilahi, saat itulah manusia berhasil mengakhiri pertarungan. Saat itulah manusia menang. Dan pada hakikatnya, kemenangan ini adalah kemenangan sisi ilahi manusia atas sisi hewaninya.

Islam percaya bahwa mustahil ada manusia di muka bumi tanpa ada Hujjatullah. Ini dikarenakan dalam islam, setiap manusia memiliki peran dan tugas, disamping memiliki ikhtiyar dan keinginan. Para Hujjatullah lah yang menjelaskan dan menentukan tugas dan taklif manusia. Inilah yang diajarkan islam. Bahwa di akhir pertarungan, kebenaran akan mengalahkan kejahatan. Pertarungan ini akan berakhir dengan dibentuknya sebuah pemerintahan ilahi, sebagai simbol dan bukti kemenangan iman atas kekufuran, kemenangan manusia merdeka atas manusia tertawan.

“Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang bathil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan.” (Ar-Ra’d:17).[HPI Iran]

Penulis: Alamsyah Manu, S1 jurusan Teologi dan Filsafat di Universitas Imam Khomeini, Qom, Republik Islam Iran

[1] Yasin, Ayat 60
[2] Biharul Anwar, Jilid 77, Hal. 179
[3] Al-Maidah, Ayat 27-30
[4] Syahid Muthahhari, dalam bukunya, Nabard-e Haq Va Bathil
[5] Kamal Husaini, Dushman Shenosi az Didgah-e Qur’an Hal. 26
[6] Ibid. Hal. 27
[7] Mustadrak al-Wasail, Jilid 11, Hal. 53
[8] Tafsir Nemuneh, Jilid 18, Hal. 425, Terbitan Madreseh-e Amirul Mukminin
[9] “…Dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (Al-Baqarah:168)
[10] Lihat Tafsir Nemuneh, tafsir ayat ke 60 surat Yasin
[11] Maarefquran.org/index.php/page,viewArticle/LinkID,14361
[12] Al-A’raf, ayat 17-18
[13] Al-Insan, ayat 3
[14] Al-Baqarah, ayat 30
[15][15] Ar-Rum, ayat 30
[16] Al-Baqarah, ayat 29
[17] Al-Ahzab, ayat 72
[18] Al-Haj, ayat 66
[19] Al-Isra’, ayat 11
[20] Tasir al-Mizan, Jilid 20, Hal. 462
[21] Al-Furqan, ayat 44
[22] Syahid Muthahhari, dalam bukunya, Nabard-e Haq Va Bathil
[23] Syahid Muthahhari, dalam bukunya, Nabard-e Haq Va Bathil
[24] Al-Baqarah, ayat 30
[25] Syahid Muthahhari, dalam bukunya, Nabard-e Haq Va Bathil

Share :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.