Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA); Eropa dan AS Kompak Ultimatum Iran

Di bawah tekanan AS, rezim Barat bersujud kepada titah Donald Trump, bukannya menegakkan perjanjian yang mereka tandatangani dengan Republik Islam Iran pada 2015. Perundingan nuklir Iran dengan kelompok yang dikenal dengan P5+1, yaitu lima negara anggota tetap Dewan Keamanan (DK) PBB (Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Rusia, dan Cina) plus Jerman serta Komisaris Tinggi Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa akhirnya menemukan titik final pada Selasa, 14/07/15, di Wina, Austria setelah 22 bulan berjalan dengan ketat.

Kesepakatan program nuklir itu jelas merontokkan kecurigaan Barat terhadap program senjata pemusnah massal sekaligus pencabutan sanksi ekonomi terhadap Iran.

Sebuah kelompok bipartisan yang terdiri lebih dari 100 veteran keamanan nasional AS dalam sebuah pernyataan bersama mengatakan, Amerika Serikat tidak mendapatkan apapun dengan menghapuskan perjanjian nuklir Iran, yang dikenal sebagai Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA), menurut laporan Tasnimnews pada Selasa, 23 Maret 2018.

Kelompok itu, termasuk 50 pensiunan perwira militer dan setidaknya empat mantan duta besar Amerika untuk Israel yang menambahkan suaranya ke perdebatan menyesatkan mengenai kesepakatan itu, yang oleh Donald Trump sebut sebagai “kesepakatan terburuk” yang pernah ada.

Dalam sebuah pernyataan satu hari sebelumnya, kelompok yang menyebut dirinya “Koalisi Nasional untuk Mencegah Senjata Nuklir Iran”, menyebutkan 10 alasan bahwa, dalam pandangannya, pelestarian kesepakatan itu adalah demi kepentingan terbaik Amerika Serikat, demikian New York Times melaporkan.

Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA) adalah kesepakatan multilateral antara Iran dan enam negara lainnya. Dewan Keamanan PBB juga meratifikasinya. Kesepakatan itu bukan antara Iran dan AS, tetapi Donald Trump tampaknya tidak tahu tentang fakta dasar ini.

Donald Trump menuntut agar Iran menghentikan semua program pengembangan rudal yang oleh Iran tegaskan sebagai bersifat defensif. Trump juga menuntut Iran untuk menghentikan semua dukungan kepada sekutu-sekutunya di kawasan, termasuk ke Suriah, Irak, Yaman dan Hizbullah. Jelas, ini adalah tuntutan ilegal dan bukan bagian dari JCPOA. Iran kembali memperjelas tidak akan melakukan perubahan apa pun terkait kesepakatan itu.

Beberapa negara Eropa -, Inggris, Perancis, dan pada tingkat lebih rendah Jerman ,- berpihak pada Donald Trump bukannya menegakkan kesepakatan dan semangat perjanjian. Menteri Luar Negeri Perancis Jean-Yves Le Drian pada 19 Maret lalu mendesak Uni Eropa untuk mengadopsi sanksi baru terhadap Iran atas dugaan perannya di Suriah dan Yaman, serta program rudalnya.

Jelaslah rezim Barat tidak dapat dipercaya untuk menjunjung kesepakatan apa pun yang mereka tanda tangani sendiri. Mereka adalah pembohong dan penipu yang kompulsif. [Faza]

Share :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.