Legitimasi Islamophobia

Era ini adalah musim berduka bagi umat Islam dunia. Hampir tidak ada negara di dunia yang masyarakat Islamnya tidak menghadapi genosida, serangan rasis, pembersihan etnis, dan berbagai bentuk pelecehan. Jika Muslim Rohingya Myanmar adalah kelompok terakhir yang bergabung dalam daftar panjang korban itu, maka cerita lain dihadapi muslim Kashmir dan Palestina yang menderita di tangan Nazi Hindu dan Zionis yang jauh-jauh hari telah mengalami penderitaan selama beberapa dekade.

Propaganda keji terhadap Muslim menjadi norma dan adab, minimalnya adalah dicap sebagai “teroris” yang membuat jutaan nyawa terbunuh di seluruh dunia sejak tahun 2001. Tempat-tempat seperti Afghanistan, Irak, dan Suriah sangat identik dengan kematian dan kehancuran. Di Yaman, seorang penguasa mengaku dirinya Muslim dan Khadimul Kharamain sibuk membantai sesama Muslim lainnya, memblokade jalur pasokan makanan yang membuat masyarakat kelaparan sampai mati. Kolera dan berbagai jenis penyakit mematikan menguntit gang-gang desa kumuh dan kota di Yaman yang siap merengut setidaknya 500.000 nyawa, kebanyakan adalah anak-anak.

Ini adalah segelintir contoh kasus yang tengah dihadapi oleh dunia Muslim. Sementara sisi lain kampanye menyeramkan terus menerus di megavonkan oleh Barat. Terbaru adalah bigot bermulut kotor, Donald Trump yang memproyeksikan Islamophia di AS. Islamophobia terus berkecamuk di jantung Eropa dan Amerika Utara jauh sebelum peristiwa 11 September dan mendapat sambutan hangat publik sejak peristiwa itu. Sejumlah undang-undang khusus Muslim disahkan di berbagai negara. Bahkan Kanada, yang dianggap sebagai model multikulturalisme, tidak lepas dari terpaan angin buruk Islamophobia.

Di provinsi Quebec, yang penduduknya berbahasa Perancis meloloskan undang-undang pelarangan jilbab yang disebut “Bill 62”. Undang-undang itu melarang layanan pemerintah bagi wanita Muslim mengenakan niqab dan jilbab karena dianggap sebagai simbol agama di Quebec yang “sekuler”! Penduduk provinsi ini tidak memiliki masalah ketika salib besar dipasang tepat di belakang kursi duduk para pembicara di Majelis Nasional.

Jika provinsi yang semestinya progresif seperti Quebec dapat melewati hukum regresif semacam itu, apa harapan bagi umat Muslim di Alberta, rumah bagi kelompok rasis dan orang-orang fanatik seperti Stephen Harper, Jason Kenney, dan Andrew Scheer. Pada saat Kanada berusaha berdamai dengan kejahatan yang dilakukan terhadap penduduk pribumi, Islamophobia terus digerakkan dan disuntikkan dalam patronase resmi.

Di seberang Atlantik, orang-orang Eropa terus menampilkan rasisme adat mereka, dan sekarang sibuk menargetkan kaum Muslim. Di Inggris, Perancis, Jerman, Belanda, Swedia, dan Austria dukungan besar mengalir kepada partai-partai anti-imigran yang secara terbuka menyatakan bahwa Islam tidak memiliki tempat di masyarakat mereka. British Home Office dalam sebuah laporan tahun 2017 mengatakan, sekitar 80.000 kejahatan ujaran kebencian muncul dalam satu tahun. Partai rasis, Alternatif untuk Jerman (AfD), memperoleh kursi di parlemen Jerman, yang pertama dalam 90 tahun. Bahkan lebih banyak berita buruk lagi yang datang dari Austria ketika Partai Kebebasan anti-Muslim mencapai sepertiga dalam pemilihan tahun lalu yang memenangkan 26% suara populer.

Mengapa orang-orang antusia berbondong-bondong menuju aula pesta anti-Muslim dalam jumlah besar seperti itu? Jawaban sederhananya adalah bahwa ada tindakan teroris yang dilakukan oleh orang-orang Muslim yang membuat warga biasa marah. Namun kenyataannya agak berbeda. Di hampir semua kasus terorisme, badan-badan keamanan dan intelijen sepenuhnya sadar akan para pelaku sebelum mereka melakukan tindakan semacam itu. Mengapa mereka tidak ditahan sebelum kejahatan itu terjadi? Sebuah pertanyaan yang ditolak oleh badan-badan intelijen!!.

Ada realitas paralel yang juga mudah diabaikan. Ketika seorang kulit putih non-Muslim melakukan tindakan teroris seperti yang terjadi dengan Stephen Paddock di Las Vegas pada Oktober 2017 tahun lalu, dan itu tidak disebut sebagai tindakan teroris. Paddock oleh pemerintah AS digambarkan sebagai “serigala kesepian” dan “gila”, dan akan dianggap mati pikiran jika ada yang menyebut dia seorang teroris meskipun Paddock menumpahkan darah terburuk dalam sejarah Amerika pada 2017 lalu.

Islamophobia adalah kebijakan disengaja yang dipromosikan untuk motif tersembunyi. Rezim Barat selalu membutuhkan “musuh” untuk mengalihkan perhatian atas kegagalan ekonomi di negara sendiri, dan membenarkan kebijakan pemadaman di luar negeri. Akibatnya, mayoritas negara Muslim diserang yang mengakibatkan jutaan orang tewas tanpa dosa. Dalam konsisi seperti itu, justru Barat dianggap sebagai pahlawan yang melawan “orang-orang jahat”.

Jika Muslim di Barat dilihat sebagai warga negara yang taat hukum dan bekerja keras, maka akan sulit untuk menjual agenda perang-perang mereka dan tidak ada alasan yang bisa membenarkan anggaran militernya yang besar.

Islamophobia adalah bagian dan paket dari kebijakan Barat untuk sebuah perang abadi. [Faza]

Share :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *